Friday, August 29, 2008

Foto bareng Yovie n Nuno……





Klo sudah ketemu…. Rugi donk klo gak foto bareng? Setelah dicetak, baru ketahuan belum foto sama Dikta. :(

Foto bareng Kahitna……





Klo sudah ketemu…. Rugi donk klo gak foto bareng?

Hadiah dari Hedi Yunus

 

Pas minta sign di cover kaset album solo Hedi Yunus sebanyak 3 buah yang ini:


saya ditanya:

“Sudah punya yang baru?” begitu tanya Hedi.
“Belum beli” begitu jawab saya.


Beberapa saat kemudian, saya dikasih album terbaru Hedi Yunus yang terdiri dari CD dan DVD seperti ini:

 

 

 

Makasih Hedi! Hedi bageur tur henteu gede hulu… (bisa bahasa Sunda dikit habis tanya ama konsultan)

Beburu Yovie dan Yovie n Nuno





Kalo sudah ketemu Kahitna, sekalian donk minta sign pada Yovie di album solo nya dan sekalian Yovie & Nuno serta yang ada Yovie-nya.

Komplit lah koleksi tanda tangan di cover kaset Yovie and the gank!

Berburu Kahitna





Giliran Kahitna manggung di Yogya, saya harus bertemu untuk sign di koleksi saya.

Pagi, pada saat mereka sedang breakfast, saya menuju restoran di hotel. Pertemuan dengan Yovie yang ketiga, saya berikan kaset Indonesia 6 yang sebenarnya pesanan Hougo. Sudah dapet restu dari Hougo untuk memberikan kaset itu ke Yovie (cari lagi syusyah!). Tq Hougo!

Langsung menuju meja dimana Hedi, Bambang dan beberapa rekan lain ada di sana. Langsung pamer koleksi untuk ditandatangan. Dengan diperkenalkan oleh Yovie klo koleksi saya lengkap!

Hedi kebagian yang pertama karena ada juga koleksi album solonya.
Selanjutnya…. personil yang lain ikut tandatangan. Aduh….. makin komplit ajah.

Ganjaran buat fans yang punya album komplit, nonton show-nya GRATIS! Di backstage lagi!

Bener-bener terasa jadi SOULMATE Kahitna. Jadi seperti temen........

Ternyata Pamer Itu Boleh!!!

 

Masih tentang pamer yang dilarang oleh pahlawan kesiangan (istilahnya Cecep), ini ada artikel menarik dari koran KOMPAS. Diambil dari sini.

Kamis, 28 Agustus 2008 | 07:49 WIB
Tulisan berjudul ”Geliat Portal Berita dan Senjakala Blog” di rubrik ini, 14 Agustus 2008, cukup mengejutkan para blogger, baik para blogger lawas maupun para debutan yang baru mencoba melangkah ke dunia blog. Pasalnya, blog dianggap sudah di ambang batas senja dan segera masuk ke dunia kegelapan.

---diedit saja-----

Portal maupun blog hanyalah pilihan, toh kedua-duanya bisa didapat secara gratis. Lebih dari sekadar itu, para blogger yang mengisi kontennya di blog atau portal mereka tidak akan pernah mati. Jumlah mereka diperkirakan malah bertambah. Selain membuat blog sendiri dari situs penyedia blog gratisan seperti Blogger dan Wordpress, mereka juga mewujud dalam situs jaringan sosial seperti Facebook, Multiply, Friendster, dan Myspace yang juga menyediakan lahan gratis untuk blogging.

Kini, jagat maya blog bakal semakin disesaki para pendatang baru, yakni para selebritis papan atas Indonesia, mulai penyanyi sampai artis sinetron yang berhasrat ngeblog. Karena yang membuat dan mengisi blog orang- orang ternama di dunia selebritis, nama khusus untuk mereka pun menjadi celeb blog atau blog seleb dalam bahasa Indonesia.

Pada awal kelahirannya, kehadiran blog dilecehkan sebagai media orang-orang narsis, orang- orang yang kelebihan hasrat menonjolkan diri sendiri.

Uniknya, jumlah blogger bukan malah menyusut, tetapi terus membengkak. Sebuah situs penyurvei blog menyebutkan, saat ini sudah ada lebih dari 100 juta blogger.

---diedit lagi-----

Bagaimana media massa online menyikapi kehadiran blogger yang terus bertambah dari hari ke hari yang di Indonesia diperkirakan lebih dari 300.000-an blogger? Apakah cap narsis yang masih melekat pada para blogger harus dijauhi?

Sebentar, jangan anggap narsis barang kotor. Katakanlah itu barang kotor, jika dipoles pastilah ia bermanfaat, setidak-tidaknya bisa menciptakan peluang bisnis. Jangan sepelekan narsis. Dalam dunia maya, narsis juga berarti peluang bisnis. Tidak percaya? Mari kita cermati kiprah Kompas.com lewat kanal khusus selebritis, Seleb.tv, dalam mengelola narsis ini!

tulisan selanjutnya tak usah dicantumkan.......

 

Jelas kan? Ternyata narsis atau pamer itu juga perlu???

Klo sudah begini, bener kata Cecep, yang sirik karena ada orang lain pamer, dia adalah pahlawan kesiangan!!! Tak pernah bangun pagi dan menghirup udara segar........ Makanya, auranya aura negatif, bukan Aura Kasih!

Saturday, August 23, 2008

Ada Yang Ngambek

 

Ada yang pm (19/8) dengan message:

halo mas, boleh gak saya add sbg teman? silahkan mas liat2 MP saya dulu, karena folder music nya saya hidden, bila memang kurang berkenan, bole di delete lagi, makasih yah mas sblm nya

Saya balas:

terima kasih.... tapi sebelumnya, seperti kontak yang lain (i have to be fair), saya pingin tau koleksi musiknya dulu. cara yang bisa ditempuh adalah: list saja semua koleksi musik mbak di sini.
selain musik, kadang saya juga melihat blog. apakah tulisannya sesuai dengan irama/gaya yang saya sukai.
saya tidak suka men-delete teman yg sdh jadi contact. rasanya gimana gitu......
mending dari sejak awal, saya merasa bisa jadi contact, ya saya accept. Klo tidak, ya saya tunggu karena mungkin suatu saat bisa.
sekali lagi.... terima kasih.....


singo


dibalas lagi:

masa semua dilist ? gmn cara nya ? byk begitu koleksi lagu2 saya.
ya udah lah kalo ga bisa, ga apa2 kok mas


saya balas lagi:

saya penggemar lagu 80an. jika ada lagu2 80an yang bisa di list, silahkan.
journal yang anda tulis, akan saya baca apakah tulisannya sesuai dengan selera saya.
beberapa contacts saya, baru menjadi contacts setelah sekian lama berinteraksi terlebih dahulu....

salam,

 

habis itu….. pm ini tak lagi dibaca.

Lho, koq ngambek?

 

Wednesday, August 20, 2008

Hadiah (lagi): Kaos GIGI





Yang namanya dapet hadiah, pasti menyenangkan! Kemarin, dapet kiriman ini. Orangnya tak bersedia disebut namanya.

Qualitas kaosnya BAGUS. Tebal! Ada tanda tangannya lagi! Jadi sayang mau dipakai. Terus, buat koleksi aja ya?

Pamer gini dimarahin gak ya? Kapan kita merdeka kalo apa-apa gak boleh? He…he….he…..

Mer(d)eka Bukan Kita??? (3 dari 3 tulisan)

 

catatan: baca posting ini dan itu terlebih dahulu

Jika di dunia maya, para penyuka musik ini kemudian saling bahu-membahu melengkapi koleksinya, bukankah itu juga hal positif? Nenek moyang kita mengajarkan kita untuk bergotong royong. Bukan bergotong royong untuk korupsi seperti yang dilakukan para pejabat, wakil rakyat (yang busuk) sehingga merugikan orang banyak.

Para penyuka musik yang bergotong royong melengkapi koleksi teman-temannya. Apakah ini disebut dosa dan pamer? Dari sisi mana melihatnya?

Bisa dibayangkan jika tiap hari saya harus menelepon si Cecep, kemudian saya mengatakan, “Cep, saya dapet pesenan kamu sebanyak 10 kaset. Kasetnya artis A, B, C, D, E, F, G, H, I & J”. Kemudian saya menelepon mbak Wi dan bilang, “Mbak, saya dapet pesenan kamu sebanyak 10 kaset. Kasetnya artis K, L, M, N, O, P, Q, R, S & T”
Belum lagi saya menelepon mbak Kiki, Hans, Hougo (di Amerika), dll. Berapa banyak pulsa yang saya habiskan???

Komunitas penyuka musik yang saling titip, bahu membahu dan bergotong royong untuk melengkapi koleksi musik mereka masing-masing tentu sah-sah saja menggunakan fasilitas yang ada demi efektivitas dan efisiensi. Kalau sarananya ada dan sah(!), mengapa tidak digunakan?

Para penyuka musik yang punya selera berbeda-beda bisa saling melengkapi dengan menunjukkan semangat gotong royong, harusnya malah diberi penghargaan donk? Bukankah ini menjunjung tinggi nilai-nilai yang diajarkan nenek moyang? Koq malah dibilang sombong sih? Yang bergotong royong korupsi tuh yang harusnya dikritisi. Cuman kaset aja koq dikritisi? Kurang kerjaan pa ya?

Mungkin saya terlalu cepat menilai sang pemicu polemic ya? Tambahin dulu dikit.

Komunitas di multiply yang berkomunikasi secara akrab dengan memanggil nama atau id masing-masing ketika memberi tanggapan (reply) dan tak menyembunyikan identitasnya, adalah orang-orang yang jelas dan tidak gelap, tidak menyembunyikan atau menyamarkan identitas. Berkomunikasi secara terus terang tentu dilakukan ketika kita sudah akrab, tanpa punya pretensi pamer. Yang tidak kenal, melihat itu pamer. Sebenarnya, baik atau buruk kan diciptakan oleh persepsi masing-masing?

Mungkinkah “kesirikan” ini muncul karena sang penulis polemik itu tak memiliki akses untuk bergabung dengan komunitas yang ada? Invitationnya tak pernah di accept atau didiemin ajah sehingga marah dan kemudian memantik api polemic?

Gak tau lah. Yang jelas, jika di jaman globalisasi kaya begini, masih ada orang yang melarang orang lain untuk berekspresi, mungkin orang itu belum merasa merdeka. Padahal, belum seminggu kita merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan negara tercinta. Dan, kalau orang-orang suka mengekspresikan kegembiraan mereka lewat pamer koleksinya dilarang, berarti…… Mer(d)eka Bukan Kita!!!

 

PERINGATAN PEMERINTAH: SIRIK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

 

Mer(d)eka Bukan Kita??? (2 dari 3 tulisan)


catatan: baca posting ini terlebih dahulu

Dalam skala kecil, di dunia maya & komunitas penyuka musik, apakah kita sudah merdeka? Anti pembajakan yang digembar-gemborkan para kreator musik sudah jamak kita dengarkan. Tapi, berhasilkah pembajakan dieliminir atau paling tidak diminimalisir?

Bagaimana berhasil jika para penjual barang bajakan itu punya kewajiban memberi “upeti” (yang jumlahnya tak jelas) pada para penegak hukum? Sekali waktu para penjual bajakan itu “cuti” karena ada operasi dari “atas”. Info pun disampaikan para penerima upeti tadi supaya para penjual barang bajakan tadi “tidur” dulu. Ketika operasi sudah tak ada, mereka bangun lagi dan beraktivitas! Kalau sudah begini, akan berhasilkah pembajakan diberantas???

Komunitas penyuka musik yang tercipta di dunia maya kemudian difasilitasi untuk bisa berbagi lagu. Upaya mereka mendigitalkan dan mendokumentasi produk musik di atas pita kaset (yang sangat rentan terhadap kehancuran) menjadi sarana menciptakan persahabatan, bukan pertengkaran seperti dicontohkan oleh para pejabat di negeri zamrud katulistiwa ini!

Ketika berbagi bisa menjadi ajang persahabatan, mengapa hal ini harus jadi polemik? Bahwa dalam kenyataannya ada yang memperjualbelikan hasil sharing, itu tak pernah diharapkan tapi pasti ada. Dalam hidup selalu ada putih dan hitam. Ada yang baik ada yang buruk. Ada pahlawan ada pecundang. Kalau dalam kenyataannya ada oknum, ya harus direlakan toh? Lha wong dalam hidup, kita ini kadang harus “nrimo”

Digitalisasi lagu yang di-sharing-kan itu, harusnya dilihat dari sisi positif. Penyanyi dan pengarang lagu saja belum tentu punya arsip lagunya sendiri. Ini bisa dibuktikan dari begitu gembiranya mereka jika bertemu orang yang bersedia memberikan kaset (asli)nya kepada mereka. Apalagi ditambah dengan hasil rippingnya?!

Jadi, apakah bagi-bagi lagu di dunia maya adalah dosa? Setahu saya, berbagi hal positif adalah perbuatan baik dan dapat pahala. Jika ada yang melihatnya sebagai perbuatan negatif, siapa yang menciptakan hal demikian sebagai hal negatif? Yang orang itu sendiri toh?


 

Mer(d)eka Bukan Kita??? (1 dari 3 tulisan)


catatan pembuka:
Judulnya saya ambil dari salah satu lagu Utha Likumahuwa, penyanyi favoritnya mbak Wi. Lagu dari album “Aku Pasti Datang” tahun 1988. Saya tidak membahas isi lagunya tapi lebih karena mengambil judulnya. Tulisan ini diinspirasi oleh tulisan temen-temen
di sini, sinisini dan sini.

MERDEKA, secara semantik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya (1) bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri; (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak bergantung kepd orang atau pihak tertentu. (KBBI halaman 648, 1995).

Pertanyaannya, apakah kita sudah merdeka???
Merdeka dari siapa? Penjajahan Belanda? YA!!!
Merdeka dari penjajahan bangsa sendiri??? Inilah yang jadi pertanyaan.

Negara yang sedang dililit utang, krisis identitas, tidak adanya kepemimpinan yang kuat, dll, membuat rakyat semakin sengsara. Sementara jumlah rakyat miskin bertambah, bertambah pula jumlah pejabat kaya raya yang uangnya didapat dari memelintir hak rakyat lewat “kerja keras” yang bernama korupsi. Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat, dikuasai sendiri. Lewat kong-kali-kong antara para pejabat dan wakil rakyat dan cukong, kerjasama sinergis ini mengeliminir kepentingan rakyat banyak.

Rasa bangga menjadi kaya mengalahkan kepentingan menyejahterakan orang banyak dan membiarkan rakyat semakin menjadi minyak jelantah. “Perampokan” seolah bisa dibenarkan dengan dibebaskannya para orang bersalah dari tuntutan jeratan jeruji besi bertahun-tahun. Atas dalih hukum (yang bisa dibeli), mereka mengatakan tak bersalah. Menghormati keputusan hukum. Padahal, kong-kali-kong tadi juga melibatkan oknum di dunia hukum. Kalau sudah begini, benarkah rakyat sudah merdeka? Silahkan menjawab sendiri.

Monday, August 18, 2008

Gundala Putra Petir & Penciptanya




Di tahun 70an, komik menjadi bacaan asik. Salah satu komik asli Indonesia adalah komik dengan tokoh super hero seperti Godam, Gundala, Pangeran Mlaar, Aquanus.

Pengarang komik Gundala adalah Hasmi. Setelah 30an tahun yang lalu saya membacanya, baru beberapa hari yang lalu saya sempat bertemu dengan penciptanya, Hasmi.

Pertemuan di rumah Rumah Butet Kartaredjasa. Sebuah kebetulan yang menggembirakan. Inilah foto sang pencipta Gundala Putra Petir, Hasmi.

Thursday, August 14, 2008

Gagal Ketemu: DI3VA

 

Salah satu artis yang saya buru waktu Soundrenalin 2008 di Yogya kemarin adalah DI3VA. Ide saya, mereka bertiga masing-masing memegang kaset pada foto ini dan saya potret.

Sayang beribu sayang. Saya gagal! Yang pertama, saya gak jadi ke hotel karena siang pada saat jam mereka check ini di hotel, saya gak jadi berangkat. Istri sedang tak enak badan, babysitter mendadak pulang karena ibunya sakit.

Rencana kedua, ke hotel malam atau besok paginya. Ternyata, KD & Uthe langsung pulang selesai manggung sore itu. Gak jadi deh!

Gagal maning…. Gagal maning! (kaya penjahat tuyul di sinetron “Tuyul dan Mbak Yul”)

Wednesday, August 13, 2008

Collector Or Not Collector

 


Seberapa banyak jumlah koleksi barang kita supaya bisa disebut kolektor? Setiap kali berbicara tentang jumlah kaset yang dimiliki, atau pas minta tanda tangan artis, saya selalu disebut “kolektor”. Saya tak pernah mengiyakan karena saya tak punya standar yang pasti berapa kaset yang dimiliki seseorang untuk mendapat julukan “kolektor” tadi.

Saya mencoba membayangkan membandingkan jumlah kaset yang saya miliki dengan jumlah kasetnya mbak Wi, Cecep, Aldiwirya, Hans Wilson, Erwin dan lain-lainnya. Dilihat dari playlist yang dimiliki di mp masing-masing, rasanya sih mereka lebih pantas disebut kolektor karena faktor jumlah. Apalagi, jumlah kaset saya meningkat pesat akhir-akhir ini karena memiliki mp dan tertular virus kasbek Cecep, mbak Wi, dan laen-laen. Jadi, tidak murni membelinya dari awal terbit (yang berarti memberi royalty pada sang artis!)

Nah, waktu ngobrol dengan mas Remy, saya dikenalkan pada kerabatnya. Kerabatnya menyebut saya kolektor. Apa iya sih saya kolektor?

Sebelumnya, mas Remy bercerita tentang jumlah kaset yang dimilikinya. Mendengar jumlah itu, rasanya saya masih jauuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh disebut kolektor.

Nah, mudah-mudahan, sharing pengalaman tentang koleksi ini dapat membuat mas Remy bangkit kembali dan lebih antusias ngomongin koleksi setelah terkena peristiwa 2-2-2002. Apaan tuh? Hanya saya dan mas Remy yang tau.

 

Tuesday, August 12, 2008

Java Jive: Old Crack Band Yang Saya Cari





Setiap ada perhelatan pertunjukan musik, saya selalu berusaha melengkapi koleksi kaset dengan tanda tangan sang artis. Pada SOUNDRENALIN 2008 di Yogya, artis yang paling saya buru adalah JAVA JIVE!

Sudah lama saya ingin sekali bertemu untuk melengkapi koleksi saya dengan tanda tangan mereka. Inilah kesempatan itu! Saya mencoba menghalangi hambatan yang ada dan dengan berbagai cara berjuang untuk bertemu mereka.

Singkat kata, saya berhasil berkat koleksi album I, II dan 3 yang saya tunjukkan. Artis selalu senang jika ada fans nya yang memiliki koleksi album mereka komplit. Mungkin punya saya tidak termasuk paling komplit karena saya tak punya Album IV dan The Best. Tapi, ketiga album yang saya miliki dirasa sudah cukup mereflexikan tingkat “loyalitas” saya?

Beruntunglah saya bertemu mereka. Selain mendapat tanda tangan, saya juga diberi CD album Java Jive terbaru mereka. Tak lupa, lengkap dengan tanda tangannya! Terima kasih Java Jive. Selamat datang di multiply saya buat kang Capung!

[JSOPS]: An Agent of Change

 

Bertemu dengan contact multiply berarti mengenal lebih dekat. Seandainya tak ada siang atau malam, ngobrol dengan mas Jockie takkan ada habisnya.

Didahului sms dari nomor 081xxxxxxx yang bertanya:
“Wisma UGM ke taman budaya jauh ngga mas?”
“Siapa ini?”
“JSOP”

lalu kita mengatur waktu bertemu. Akhirnya, jam 10an baru kita ketemu. Saat bertemu, mas Jockie sedang ngobrol dengan Jajang C Noer dan Garin Nugroho. Saya larut dalam perbincangan tentang film.

Setelah mereka satu per satu tak kuat menahan serangan kantuk, kami lanjutkan berdua. Mulai ngobrol tentang musik, budaya, hidup, nation building dan lain-lain. Obrolan lengkap dengan mas Jockie rasanya bisa dijadikan cerber.

Prihatin dengan kondisi negara tercinta, ada satu hal yang membuat saya belajar banyak dari mas Jockie. Kebencian & apatisme terhadap negara yang lagi amburadul, tak punya visi dan misi, mindset error, baik rakyat maupun pejabat, tidaklah berarti harapan kosong untuk sebuah perubahan.

Seberapa pun kecil peran sebagai warga negara, kita harus bisa ikut mengubah keterpurukan. Paling tidak, kita bisa mulai dari diri sendiri sebagai unsur terkecil, Setiap pribadi harus bisa menjadi agent of change dan selanjutnya bersama-sama menyatukan kekuatan lewat soft power berupa tulisan-tulisan yang cerdas.

Inilah kesan terkuat saya selama 3,5 jam ngobrol dengan mas Jockie. Mas Jockie sebelumnya saya bayangkan sebagai seorang artis besar. Terus terang, sebelumnya saya agak minder untuk bertemu. Tapi, ternyata, dugaan saya ERROR! Pakaian yang dikenakan sama sekali jauh dari kesan artis. Mas Jockie yang teman seperjuangan idola saya (Chrisye) tak mengenal kata jaim.

Obrolan diselingi perjalanan kaki beberapa menit menuju sebuah warung gudeg. Sambil makan pun, obrolan berjalan. Tak ada detik terlepas selama bersama mas Jockie.

Seandainya tak ada malam dan tubuh tak harus diberi kesempatan beristirahat, mungkin obrolan dengan mas Jockie takkan ditutup.

Terima kasih atas ngobrol-ngobrol dan inspirasinya.

 

Remy Soetansyah – Bersamanya

 

Kopdar, kopi darat, satu hal yang tak disukai oleh Cecep. Katanya ini hal prinsip.

Buat saya, kopdar adalah kebutuhan untuk mengenal lebih dekat supaya hubungan yang terjalin di mp tak hanya sekedar hubungan maya (dan Dani).

Setelah kopdar massal di Plaza Semanggi dengan beberapa kontak mp pada 8 Juni 2008 dan kopdar-kopdar tunggal sebelumnya, kopdar selanjutnya terjadi secara sporadis. Dengan mas Daus sudah.

Hari Jumat, 08-08-08, bertempat di Plaza Ambarukmo, ketemu lagi dengan salah satu kontak, mas Remy Soetansyah sambil serah terima rokok buat koleksi tambahan mas Remy. Makasih traktiran minumnya ya, Mas!

Banyak cerita di seputar musik, kerjaan, pengalaman, dan laen laen……..

Malam setelahnya, kopdar lagi dengan mas JSOP dan Minggu malam juga mas Kusukanada (untuk yang kedua kali).

Thursday, August 7, 2008

[Untuk Mas Remy Soetansyah] Rokok Koleksi





Saya gak tau klo mas Remy juga koleksi rokok seperti Butet Kartaredjasa. Komentar mas Remy di album foto terdahulu memacu soundrenalin (???) saya ikut melengkapi koleksinya.

Inilah rokok buat mas Remy yang hari ini lagi di Yogya sampai Minggu besok (tapi nginepnya di Solo! :(( )

Nasib!

 

 

Kaset bekas yang saya dapet ini termasuk langka. AB Three Nina Poni. Jaman awal karir mereka setelah ikut kontes Asia Bagus.

Waktu beli, sebenarnya sudah gak enak hati. Antara beli atau tidak. Nunggu tokek di siang hari, tak ada yang bersuara.

Karena langka, ya udah lah gua beli. Meskipun, waktu itu kondisinya memprihatinkan. Covernya lengketttttttt. Saya pikir, "if there's a will, there's a way" (kaya tagline nya yang mencalonkan diri jadi presiden). Pasti masih bisa diperbaiki.

Berdasarkan petunjuk guru spiritual perkasetan saya, cover lengket masih bisa ditolong dengan merendamnya di air yang dicampur pemutih (Bayclin).

Operasi rahasia dimulai hari Senin siang. Dua jam sudah berlalu, saya lihat koq masih lengket? Saya teruskan merendamnya sampai malam. Waktu saya lihat malam hari, sudah mulai terkelupas dikit-dikit tapi tidak semua.

Hari Selasa, sama sekali tidak saya tengok. Pulang ngajar malem hari, saya mau lihat. Mudah-mudahan virus lengket terkelupas.

Waktu lihat ember yang saya gunakan sudah bersih, perasaan sudah mulai gak enak.   Mau tanya pembantu, sudah tidur.  Akhirnya, kemarin pagi saya tanya,

J(uragan): "cover kaset yang saya rendem ada di mana?"
P(embokat): "Sudah saya buang, pak!"
J: "Dibuang kemana?" tanya saya.
P: "Ke sampah"
J: "Sampahnya sekarang di mana?"
P: "Sudah saya buang juga!"


Alamakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk.................. Rasanya langsung terjadi gempa!  

Nasibbbbbbbbbbbbbbbbbbb. Kalo nasib goreng mah, enak dimakan. Lha ini, nasib kaset bekas langka, covernya dibuang! Kapan lagi dapet kaset seperti ini?  

Tuesday, August 5, 2008

[poll] Siapa Yang Sebenarnya Lebih Pantas Jadi Indo Idol 2008?

Siapa Yang Sebenarnya Lebih Pantas Jadi Indo Idol 2008?

Aris
 
 5

Gisel
 
 7

 

 

Indonesian Idol 2008 sudah berakhir dan Aris menjadi juara. Lewat perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya sang pengamen menjadi JUARA.

Kedua grand finalist mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika dilihat secara keseluruhan (kualitas vokal, penampilan, gaya, kepribadian, kemampuan personal dan laen-laen), menurut kamu, sebenarnya siapa sih yang lebih pantas jadi Indo Idol 2008? Aris atau Gisel?

Pemirsa Indonesia sudah memilih. Keputusan tak bisa dibatalkan. Survey ini hanya sebuah pertanyaan menggelitik saja. Sama sekali tidak bersifat akademik.

 

sumber foto: www.indonesianidol.com

Mengumpulkan Muntahan Magma KRAKATAU





Krakatau adalah gunung berapi. Krakatau juga group band yang album pertamanya masuk dalam 150 Album Terbaik pilihan majalah Rolling Stones Indonesia edisi Desember 2007.

Salah satu grup yang saya kagumi. Sayang, ketika mengubah haluan menjadi ethnic jazz pada album Mystical Mist (1994), saya tak lagi mengikutinya.

Buat saya, formasi terbaik Krakatau adalah Donny Suhendra, Dwiki Dharmawan, Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Pra B Dharma & Trie Utami dengan album mereka First Album (1987), Second Album (1988), Mini Album (Top Hits Single) (1989), Kembali Satu (1989).

Niat saya, koleksi saya harus lengkap dengan tanda tangan mereka di keempat album tersebut plus foto bareng (lagi). Itu berarti, saya masih harus bertemu Donny Suhendra, Dwiki Dharmawan dan Indra Lesmana.

Saya sedang mengumpulkan muntahan magma gunung berapi itu…….

Sunday, August 3, 2008

[Arigato] Sokaradio & [Terima Kasih] Erwin

 

 

Arigato buat Sokaradio  dan Terima Kasih buat Erwin . Sokaradio ngasih saya CD idola saya, Ruth Sahanaya, produksi Jepang. Erwin yang jadi tempat penitipan barang dan kurir ngirim ke saya.

Saya sempat iri sama hougo07 yang punya CD ini meskipun Ruth Sahanaya bukan favorit dia  . Akhirnya, saya punya juga!

Kalau punya teman seperti ini di mp, alasan apa yang membuat saya tidak ketagihan ber-mp ria?

Sekali lagi, arigato & terima kasih.


NB: Kira-kira, Ruth Sahanaya punya CD ini gak ya?

Buku Djaman Dulu Yang Heboh





“Sum Kuning” adalah sebuah nama jang cukup melegenda, khususnya di Jogjakarta pada awal tahun 70an. Cerita tentang seorang pendjual telor yang diperkosa. Kasusnya tidak selesai karena melibatkan anak pedjabat. Kalau di film kan, sematjam X-file gitu lah. Soalnja, jang terlibat kan anak pedjabat. Daripada pedjabatnya malu, ya perlu ada korban.

Saja belum membaca habis karena baru dapet kemarin. Membatjanya pun harus konsentrasi penuh karena buku ditulis dalam edjaan lama. Buku jang saja beli ini adalah buku tjetakan kedua. Terbit tahun 1972.

Jang lain, judulnja “Bandjirkanal”. Belum saja baca sama sekali. Saja cuma dengar sadja kalau kasus ini termasuk kasus jang ramai dibitjarakan pada tahun 1970an djuga.

Adakah jang tau tjerita dari kedua buku ini???

Saturday, August 2, 2008

Koreksi

 

Salah seorang teman, punya blog. Tapi dia lebih aktif di multiply. Suatu ketika, saya mengunjungi blog nya. Dia menulis dalam bahasa linggis. Mata saya yang terbiasa nyoret-nyoret pekerjaan murid, mulai menggeliat dan rasanya saya berdosa pada ilmu yang saya miliki jika tidak ikut membenarkannya.

Lalu, saya coba benarkan dan saya kirim koreksinya via email. Teman itu berterima kasih. Dalam pengakuannya, dia malu karena ada kesalahan. Tak usah malu. Yang namanya belajar, pasti membuat kesalahan. Tanpa kesalahan, tak ada proses belajar.

Beberapa hari yang lalu, ada yang posting pake bahasa linggis. Dia orang terkenal. Sama seperti cerita di atas, saya koreksi yang menurut saya perlu dikoreksi. Setelah melakukan beberapa koreksi, saya sadar, tindakan saya mungkin tidak berkenan baginya. Saya langsung pm, silahkan dikoreksi dan setelah koreksi, delete saja comment saya. Benar! Seluruh comment saya yang bersifat korektif, di delete. Nampaknya ini dilakukan sebelum baca pm saya.

PM saya dibalas dengan terima kasih. Setelah itu, saya lihat lagi, ternyata tidak semua koreksi saya dilakukan. Saya koreksi total via pm untuk tidak mempermalukannya sambil meminta maaf jika kurang berkenan. PM saya tak dibacanya sampai terakhir saya buka multiply pagi ini.

Dalam hati, saya berpikir, mungkin dia memang tidak berkenan. Atau bahkan bisa saja dia merasa saya adalah orang yang s(y)ok!

Apa seh perasaan kamu kalau ada tulisan kamu yang dikoreksi biar benar dan enak dibaca?

Saya sih mengoreksi karena demi keilmuan saya.

Bukankah kalo bahasa linggis nya benar, dia juga yang dipuji?
Bukankah saya ini konsultan gratis? Padahal, jadi konsultan itu kan mestinya diKON (= disuruh) uSUL, dibayar konTAN???

 

Malioboro Malam





Meskipun cuman sebentar, tapi pertemuan yang tertunda dengan mas Diarkotop sungguh berkesan. Kenapa berkesan?

1. Makan malam dibayari (ini yang paling membuat berkesan!)
2. Belajar motret meski cuman pake camera otomatis.
3. Jadi tau ini toh tampangnya orang yang baik hati yang namanya Diarkotop?
4. Jadi tau ini toh orang yang kenalnya kebetulan dan menunjukkan dunia sempit (rumah mertuanya ternyata gak jauh dari rumah)

Mestinya, kami sudah ketemu beberapa saat yang lalu tapi selalu tertunda. Akhirnya datang juga!

Sayang, malam itu kami gak jadi makan makanan favorit kami, B2 panggang bang Ucok karena sudah habis. Akhirnya kami makan burung dara. Sebenarnya saya lebih suka tanpa burung. Coba kalau mas Cuk bergabung dengan kami di bang Ucok.

Tapi, apa mas Cuk mau dan boleh makan di tempat bang Ucok?

Nah, ini foto-foto yang diambil pake kamera “pinter” dengan sedikit sentuhan teknik yang bisa memaksimalkan hasil menjadi lebih fotografik. Sebenarnya, kamera saya dan kamera mas Diarkotop tak jauh beda. Mereknya sama. Cuman, spec nya yang jauhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.

Bikin saya pingin nabung untuk memiliki kamera seperti itu!