Tuesday, June 16, 2009
Sunday, June 14, 2009
[tanya pada Aldi] apakah ini albumnya Mulan Jameela?
Kemarin dapet kaset. Ragu-ragu mau beli atau tidak. Rasanya koq seperti Mulan Jameela? Tapi koq juga ragu? Tokek gak bersuara. Jadi tanya pada siapa? Di sekitar penjualnya gak ada rumput yang bergoyang.
Ya udah, karena harganya terjangkau, beli aja deh.
Mungkin mas Aldi bisa bantu saya?
Makasih.
Thursday, June 11, 2009
Wednesday, June 10, 2009
Thursday, June 4, 2009
geram
Sudah lama sekali saya tidak posting. Malas, bosan, capek dan seribu satu alasan lain yang tak layak.
Tapi, setelah membaca KOMPAS (3 Juni 2009) yang memuat cerita tentang Ibu Prita Mulyasari, rasa kemanusiaan saya terusik. Rasanya ingin menumpahkan uneg-uneg saya atas kejadian aneh, tidak manusiawi, dipaksakan, semena-mena dan seribu satu alasan tidak masuk akal lainnya.
Setelah melihat beberapa komentar dan aksi di dunia maya untuk mendukung Ibu Prita, hasrat menulis pun luntur karena lebih banyak melakukan aksi mendukung atau membaca seribu satu berita tentang ibu Prita.
Sebenarnya, berita tentang ibu Prita ini sudah sempat diposting seorang teman di multiply-nya. Tapi waktu itu, saya tidak begitu ngeh dan malas untuk beraksi. Saya trauma berhadapan dengan rumah sakit, yang lebih sering tidak menyembuhkan tapi malah menyakitkan.
Ketika membaca KOMPAS kemarin, saya benar-benar geram. Garam, bumbu dapur yang sering kita gunakan untuk memasak, telah menaikkan tensi saya dan ingin ikut berkomentar. Kegiatan CAUSE di facebook yang jarang saya ikuti, atas undangan seorang teman, saya confirm. Jadilah saya bergabung di Cause DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN dan menjadi fans Say No To RS OMNI Internasional Tangerang. Saya ingin bersimpati dan toleransi pada ibu Prita serta teman-teman yang berjuang untuk Ibu Prita.
Kejadian kemarin sungguh bak keajaiban. Dalam sehari, berbagai media langsung mengangkat masalah ini. Para capres yang mencoba menarik simpati calon pemilih pun tak mau ketinggalan (meskipun ada yang mengeluarkan statement gak nyambung) ikut memperjuangkan ibu Prita.
Rasanya, baru sekali ini di negara kita, ada kasus yang ditanggapi begitu cepat dan langsung memberi efek luar biasa (pembebasan ibu Prita).
Kejadian yang menimpa ibu Prita tidak kita harapkan. Namun sebaliknya bagi RS Omni Internasional Tangerang. RS Omni yang tertawa terbahak-bahak atas "kemenangan" dan "kebahagiaan di atas penderitaan orang lain" barangkali berujar: "Rasain lu, gue dilawan?"
Tapi, setelah semua pihak berjuang sampai akhirnya ibu Prita mendapatkan kebebasannya, rasanya ganti RS Omni yang tertekan. Bayangkan, sebuah institusi besar, bertaraf internasional (dari penyebutan nama institusinya), ditekan oleh jutaan orang di negara ini. Mungkin setelah pembebasan ibu Prita, RS Omni mulai salah tingkah (salah sendiri, koq bertindak dulu baru mikir!).
Hari ini, di KOMPAS, muncullah pernyataan "RS Omni Terbuka untuk Melakukan Perdamaian". Lha, koq enak betul ngomongnya? Kemarin-kemarin memperkarakan ibu Prita dan menuntut ganti rugi sebesar Rp 161 juta + Rp 100 juta. Sekarang mau damai? Aya-aya wae!
Saya sungguh geram, bagai garam yang bisa menaikkan tekanan darah menjadi tinggi!
terbersit harapan, tulisan ini tidak digunakan oleh pihak RS Omni untuk memperkarakan saya dengan tuduhan "pencemaran nama baik". Ini kan sekedar tulisan tanpa arti, dibanding ngurusin duit yang masuk ke kas RS Omni?
Monday, May 4, 2009
Hadiah Terindah
Hadiah apa yang paling bernilai pada hari jadi saya tahun ini? Siang ini, ada paket. Setelah saya buka, isinya sebuah CD. CD Evolusi karya Yockie Suryo Prayogo & Susilo Bambang Yudhoyono. Sebuah mahakarya, karena dihasilkan oleh orang yang mumpuni di bidang musik dan seorang Presiden yang masih aktif memimpin negara.
Itu sajakah? Tidak! Tanda tangan yang membubuhi cover album CD itulah yang membuatnya sangat istimewa dan nilainya luar biasa. Tak bisa diukur dengan materi. Cover CD itu ditandatangani oleh sang maestro, Yockie Suryo Prayogo dan sang Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono.
Inilah koleksi kaset saya yang paling berharga saat ini, mengalahkan koleksi yang lain!
Terima kasih pada mas Yockie yang tak terhingga. Terlambat datang tak apa-apa, karena kado memang diterima sampai ulang tahun berikutnya.
Friday, May 1, 2009
Bayi Yang Tak Berdosa Itu
Akhirnya, motor saya menggerakkan tangan saya untuk ke pasar lebih dahulu. Baru setelah itu saya ke lokasi yang lain. Setibanya di lokasi itu, matahari mulai menguap dan menunjukkan kantuknya. Cahaya matahari yang kuat telah berganti remang-remang.
Setelah memilih beberapa kaset, saya terhenyak mendengar beberapa pedagang di sekitar penjual kaset itu saling bersahutan ingin melihat bayi yang dibuang ibunya di kantor pasar Beringharjo. Hati saya ikut tergerak menuju ke sana.
Orang-orang berdesakan mengintip dari jendela kantor pasar. Ketika mendapat kesempatan berada di urutan terdepan, saya memotret dengan kamera telepon seluler yang minimal. Saya ingat, saya membawa kamera. Jendela ditutup dan saya melangkah mundur untuk maju ke ruang kantor pasar itu.
Di kantor itu sudah ada pak polisi dari polsek terdekat. Pintu masuk ke kantor dijaga beberapa petugas keamanan pasar. Dengan jaket yang saya pakai, tas yang ada di pundak serta kamera yang ada di tangan, petugas keamanan pasar mengira saya seorang wartawan dan saya dipersilahkan masuk.
Dari dekat, saya menyaksikan seorang ibu muda menggendong bayi yang berumur 2 hari. Sang bayi yang belum bisa membuka matanya merasakan kehangatan pelukan wanita yang bukan ibunya sambil minum susu dari botol dengan rakusnya. Pak polisi menanyai ibu yang menggendong bayi itu. Maka berceritalah sang ibu muda itu.
“Saya penjual pakaian, berusia 30. Ada seorang wanita kira-kira berusia 25 tahun berkulit kuning langsat, memakai jilbab, datang ke tempat jualan saya. Dia menawar beberapa pakaian. Wanita itu membeli beberapa pakaian dan sudah dimasukkan tas kresek. Sebelum membayar belanjaannya, sang wanita itu menitipkan anaknya pada saya. Dia mau ke toilet, katanya. Setelah saya tunggu agak lama, ternyata wanita itu tidak muncul. Saya merasa, wanita itu memang sengaja meninggalkan anaknya pada saya. Di tas sang ibu anak itu, masih terdapat beberapa perban persalinan. Kemungkinan anak ini baru berusia 2 hari.”
Ketika beberapa orang di kantor itu menanyakan kelanjutannya, bagaimana nasib bayi itu, apakah wanita itu bersedia mengasuhnya, penjual pakaian itu melanjutkan,
“Anak saya sudah tiga. Kalau anak ini harus saya asuh, saya tidak keberatan.”
Saya tak tau apakah wanita penjual baju itu mengatakan bersedia mengasuh bayi tak berdosa itu karena iba atau karena emosional karena tidak bisa berpikir memikirkan nasib bayi tak berdosa itu.
Saya tak ingin banyak bertanya karena saya tak sedang membuat berita. Saya bukan wartawan. Lebih baik saya tutup mulut saja daripada nanti orang-orang di kantor itu mengetahui saya bukan wartawan, dan saya mendapat gebukan karena dikira berbohong. Saya tidak berbohong karena saya sejak awal tidak mengatakan saya wartawan. Mereka yang salah menafsirkan saya. Saya bersedia masuk, memotret, dan mendengarkan perbincangan mereka untuk mendapat sedikit data, karena hati saya tergerak untuk mengabarkan betapa malang nasib seorang bayi yang tak tau apa salahnya tapi harus menanggung dosa, tidak mengetahui asal-usulnya.
Seharusnya, hari ini saya bahagia karena hendak makan malam bersama keluarga atas usia yang ke-42. Jika benar bayi itu berusia 2 hari, hari lahir saya ternoda karena ada seorang wanita yang begitu tega membuang anaknya (apa pun alasannya). Anyway, Saya harus tetap bahagia karena saya bisa membagikan cerita pada teman-teman saya.
Hari ini kita belajar (kata-kata yang selalu ada dalam acara reality show Helmy Yahya) dari dua orang wanita. Yang satu tega membuang anaknya. Yang satu merasa mendapat anugrah atas bayi yang ditinggalkan ibunya. Anda yang menentukan, mau belajar pada siapa.
Subscribe to:
Posts (Atom)