Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Saturday, August 15, 2009

Jatuh Cinta Lagi: Catatan Pribadi Penulis Lirik & Pencipta Lagu, Wieke Gur

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Wieke Gur


Judul: Jatuh Cinta Lagi: Catatan Pribadi Penulis Lirik & Pencipta Lagu, Wieke Gur
Penulis: Wieke Gur
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Juni 2009
Tebal: 234 halaman


Dulu, orang berlomba-lomba menutup “rahasia dapur” suksesnya supaya orang tidak menirunya. Sekarang, orang berlomba-lomba membagikan rahasia suksesnya. Menulis buku dengan semangat berbagi dan menularkan ilmunya.

Buku Jatuh Cinta Lagi: Catatan pribadi penulis lirik & pencipta lagu, Wieke Gur termasuk buku berbagi resep. Adalah sebuah kejutan, ketika seorang Wieke Gur – yang menurut pengakuannya sendiri – dulu adalah seorang yang pemalu dan pendiam serta tidak percaya diri dan tidak mudah bergaul akhirnya bersedia membuka ketertutupannya karena hasil provokasi sahabat-sahabatnya, Ria Leimena & Kafi Kurnia.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, lugas dan jelas serta mengalir indah dan juga memperkaya hidup karena terselip kata-kata bijak sebagaimana Wieke Gur menulis lirik-lirik lagu yang tak hanya bertaraf nasional, tapi juga internasional karena memenangkan World Popular Song Festival di tahun 1986 lewat Seandainya Selalu Satu yang juga mengantar Harvey Malaihollo menjadi penyanyi terbaik di ajang itu.

Kisah bagaimana lagu-lagu ditulis dan prestasi yang dicapai sebuah lagu serta latar belakang penciptaan lagu-lagu, bisa ditemui di buku ini. Ini tentunya bisa menjadi semacam resep/tips/referensi bagi para pencipta lagu yang ‘mandeg’ karena tak tau apa yang harus ditulis. Wieke Gur menulis bagaimana ia menyelesaikan lagu Ayun Langkahmu setelah sempat mengalami kebuntuan dan tak mampu lagi menulis. Ketika terbangun dari tidur, matahari membangunkannya dari kesedihan. Dan, jadilah lagu yang optimis ini.

Buku ini juga membuka rahasia “perkawinan” Wieke Gur & Elfa Secioria; proses pertemuan, kolaborasi & “perkawinan” yang membawa kedua orang itu menjadi penghasil lagu-lagu bermutu di tahun 1980an lewat ajang Festival Lagu Populer Indonesia, sebuah ajang adu kreativitas membuat lagu berkualitas yang sayang harus berhenti di tahun 1991.

Di buku ini, Wieke Gur juga mengakui kelemahannya yang sempat tidak mendokumentasi beberapa karyanya. Kelemahan ini bukanlah milik Wieke Gur semata. Beberapa pengarang lagu Indonesia sering menganggap enteng pentingnya dokumentasi dan ketika mereka tersadar ingin mendapatkan karyanya, mereka harus mengunjungi pasar loak untuk mencari jejak mereka yang hilang atau menulis status di situs jejaring sosial, FACEBOOK, untuk minta pada siapa yang masih menyimpan karya mereka. Beruntunglah Wieke Gur yang punya teman-teman yang masih memiliki karya-karyanya.

Jika ada yang kurang dari buku ini, itu adalah tidak dicantumkannya di album/kaset mana lagu itu berada. Rasanya ini juga perlu untuk mengingatkan bahwa lagu itu memang pernah ada di belantika musik Indonesia dan bisa menjadi bukti untuk anak cucu.

Lepas dari kekurangan itu, membaca buku ini memang membuat kita “jatuh cinta lagi” pada karya-karya Wieke Gur yang berkualitas, indah, sederhana dan nyata, seperti komentar Elfa Secioria, “belahan jiwa”nya dalam berkarya.


Tj Singo (penikmat musik Indonesia)


catatan: foto sampul buku diambil dari: http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs106.snc1/4599_506610243918_206700327_30573095_4890591_s.jpg

Monday, April 27, 2009

Selamanya

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Rida Farida

Judul album: Selamanya
Penyanyi: Rida Farida (Rida RSD)
Produser: Wirawan Hartawan, Dina Mariana, Utha Likumahuwa, Adjie Soetama
Produksi: Platinum, 2009


Setelah dua kali tampil bersama RSD di layar televisi, akun Facebook Rida dipenuhi komentar para penggemarnya yang menyatakan kerinduan penampilan mereka serta mendukung kembalinya RSD di kancah musik Indonesia. Kerinduan para penggemar nampaknya menjadi semangat bagi Rida untuk segera menyelesaikan album solonya yang sudah dipersiapkan sebelum tampil (reuni) bersama Sita dan Dewi.

Memanfaatkan histeria lagu-lagu 80an yang akhir-akhir ini terus menggiring penikmat musik berusia 40+ untuk mencoba mengulang masa lalu yang indah, separo persis album ini berisi lagu yang populer di tahun-tahun itu; tiga lagu Vina Panduwinata berjudul Salamku Untuknya (album Festival Lagu Populer Nasional – 1983), Mohon Ampun (Citra Ceria – 1984) dan Dua Anak Manusia (Cinta – 1985), satu lagu Ruth Sahanaya berjudul Selamanya (Tak Kuduga – 1989) serta lagu Trie Utami berjudul Tinggal Bilang (Adjie Soetama & Rekan – 1989). Sisanya, 3 lagu adalah lagu yang dibawakan Rida bersama RSD: Antara Kita & Masih Ada (Antara Kita – 1995) dan Aku Ingin (Bertiga – 1997), dan 2 lagu baru berjudul Katakan dan Sahabat. Dari kesepuluh lagu itu, hanya lagu Dua Anak Manusia-lah ciptaan Vina Panduwinata. Sisanya, lagu-lagu di album ini ciptaan Adjie Soetama yang berkolaborasi dengan pencipta lagu lain seperti Andre Hehanussa, Chrisye, Irianti Erningpraja, Budi Bidhun & Tetet Cahyati.

Keberanian Rida menyanyikan lagu-lagu Vina Panduwinata & Ruth Sahanaya menjadi catatan tersendiri karena lagu-lagu itu disenandungkan tanpa mengurangi penghayatan dan tanpa kesulitan berarti bagi penyanyi 90-an ini. Rida tentu tak sulit mengenali lagu 80-an yang berjarak umur tak terlalu jauh dengan eranya sebagai penyanyi.

Namun, pada lagu Tinggal Bilang, jangan berharap lagu ini punya soul secentil jika dinyanyikan oleh Trie Utami mengingat Rida sebagai bagian dari grup RSD memang tak dilahirkan untuk menyanyikan lagu dengan beat sekencang Trie Utami pada grup Krakatau yang butuh banyak dinamika.

Tiga lagu yang dinyanyikan bersama bersama rekannya, Sita & Dewi, sama sekali tidak kehilangan jiwa RSD. Kedua lagu baru yang ada di album ini tidaklah terlalu sulit disenandungkan Rida mengingat kedua lagu ini sangatlah “RSD

Album ini sangatlah pas didengarkan para fans RSD yang rindu pada mereka karena jiwa RSD terasa sangat kental di sini. Penggemar Vina Panduwinata dan Ruth Sahanaya juga tak ada salahnya ikut mendengarkan lagu-lagu yang dulu sempat dipopulerkan kedua penyanyi tersebut. Bisa mengobati kangen suara si Burung Camar dan Uthe.

Beberapa waktu ke depan, nampaknya penyanyi-penyanyi lain akan mengekor album semacam ini untuk memanfaatkan momentum daur ulang lagu-lagu hits era 80-an yang sekarang sedang bangkit karena adanya pengaruh acara Zona80 di Metro TV setiap Minggu Malam. Daur ulang lagu-lagu pop kreatif 80-an semacam album Selamanya ini akan menjadi perimbangan yang baik di tengah maraknya lagu-lagu Indonesia yang bersifat generic & stereotipe oleh band-band anak jaman yang lebih mementingkan faktor industri (kapitalisme) daripada estetika lirik & pesan sebuah lagu.

Lepas dari lagu-lagu indah yang dilantunkan oleh Rida pada album solonya ini, hal yang sedikit mengganjal adalah pemberian label genre jazz yang kurang pas pada lagu-lagu yang easy listening. Pencantuman “Audiophile Recordings” layak tercetak di cover kemasan album yang tidak lazim untuk album biasa karena musiknya memang akustik nan halus. Warna biru yang menghiasi seluruh album mulai dari cover, keping cakram sampai lirik menjadi sejuk dipandang, sesejuk warna langit cerah jika album ini tidak dibeli di lapak-lapak bajakan yang kian hari kian mematikan toko kaset yang menjadi nafas kehidupan penyanyi & pencipta lagu.


Singo
Penikmat Musik