Seorang teman saya bercerita dia pernah mengajar privat seorang artis.
Seorang artis terharu & menangis di sebuah acara ketika guru SMA-nya tiba-tiba muncul di panggung acara itu.
Seorang musikus menyatakan ungkapan terima kasihnya kepada guru yang dulu mengajarinya sehingga dia bisa memainkan alat musik.
Masih ada beberapa contoh lain dimana seseorang merasa sayang, berterima kasih dan berhutang budi pada gurunya.
Guru adalah profesi yang membanggakan dan profesi guru (mestinya) berada satu tingkat di atas profesi yang lain.
Manager punya guru. Sang guru adalah gurunya manager.
Direktur punya guru. Sang guru adalah gurunya direktur.
Artis punya guru. Sang guru adalah gurunya artis.
Pak kyai punya guru. Sang guru adalah gurunya kyai.
Pendeta punya guru. Sang guru adalah gurunya pendeta.
Menteri punya guru. Sang guru adalah gurunya menteri.
Presiden punya guru. Sang guru adalah gurunya presiden.
Cuman, akhir-akhir ini, khususnya di negara tercinta, profesi guru tidaklah terlalu membanggakan.
Apa sebab? Banyaknya, tindakan negatif yang terjadi di negara ini telah melukai kebanggaan sebagai guru. Saat ini, banyak sekali profesi negatif di negeri ini.
Koruptor punya guru, sang guru adalah gurunya koruptor.
Jaksa (nakal) punya guru, sang guru adalah gurunya jaksa (nakal).
Anggota Dewan (yang cabul), sang guru adalah gurunya anggota dewan (yang cabul).
Provokator punya guru, sang guru adalah gurunya provokator.
Kalau sudah ternoda begini, apa kata dunia???