Siapa sih yang tak mau foto bareng Idola?
Sebagai seorang fanatik, tentu saya berusaha berfoto bareng idola. Duh, senangnya!
Ini baru sebagian. Yang lain akan menyusul setelah Playlist nya ditaruh di multiply.
So, wait............
Puisi yang bikin JK marah......
KAPAN SEKOLAH KAMI LEBIH BAIK DARI KANDANG AYAM
oleh Prof. Winarno Surahman
"Tanpa sebuah kepalsuan,
guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.
Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,"
"Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?"
"Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,"
"Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengan gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta guru tua yang terlupakan oleh sejarah,"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
(pesan bagi para pendidik)
If a child lives with criticism, he learns to condemn.
(Bila anak hidup dalam kritik, ia belajar untuk mencela)
If a child lives with hostility, he learns to fight.
(Bila anak hidup dalam permusuhan, ia belajar untuk menentang)
If a child lives with ridicule, he learns to be shy.
(Bila anak hidup dalam ejekan, ia belajar menjadi pemalu)
If a child lives with tolerance, he learns to be patient.
(Bila anak hidup dalam toleransi, ia belajar bersabar)
If a child lives with encouragement, he learns confidence.
(Bila anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri)
If a child lives with praise, he learns to appreciate.
(Bila anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai)
If a child lives with fairness, he learns justice.
(Bila anak diperlakukan secara adil, ia belajar tentang keadilan)
If a child lives with approval, he learns to like himself.
(Bila anak dihargai, ia belajar mencintai dirinya sendiri)
If a child lives with security, he learns to have faith.
(Bila anak hidup merasa aman, ia belajar untuk percaya)
If a child lives with acceptance and friendship,
he learns to find love in the world.
(Bila anak merasa diterima dalam hidup dan persahabatan,
ia belajar menemukan kasih dalam dunia)
- Dorothy Low Nolte –
Satu Celana Berdua
Dua anak jalanan bertemu di bawah jembatan
di malam hujan. Setelah berkenalan, berbagi dingin
dan lapar, mereka tidur berdua dalam satu celana.
Suatu hari mereka berpisah juga, mencari jalan hidup
sendiri-sendiri. Siapa sangka mereka akan jadi bintang.
Mereka berjumpa kembali di atas panggung,
sekian tahun kemudian. Yang satu pandai menirukan
suara bermacam-macam orang, yang lain pintar
memainkan beragam bunyi dan bunyi-bunyian.
bersama. Bila kami bertemu pengamen kecil di bawah
jembatan, kami suka bersitegang. “Dia mirip kamu,”
yang berkeliaran di jalanan, mengamen siang malam,
untuk mencari tahu siapa ibubunyi dan ibusuara
yang telah mempertemukan kami di sebuah celana.
(Joko Pinurbo, 2004)