Showing posts with label poemspassages. Show all posts
Showing posts with label poemspassages. Show all posts

Saturday, May 12, 2007

Puisi Joko Pinurbo

http://matarindu.blogspot.com/

Joko Pinurbo adalah penyair favorit saya yang sajak-sajak nya begitu mendalam, filosofis dan kadang-kadang 'nakal'

Saturday, February 24, 2007

Kapan Sekolah Kami Lebih Baik Dari Kandang Ayam

Puisi yang bikin JK marah......


 


KAPAN SEKOLAH KAMI LEBIH BAIK DARI KANDANG AYAM


 


oleh Prof. Winarno Surahman




"Tanpa sebuah kepalsuan,


guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,


Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.

Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,"

"Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?"

"Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,"

"Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengan gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta guru tua yang terlupakan oleh sejarah,"

A Message To Educators

A MESSAGE TO EDUCATORS


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


(pesan bagi para pendidik)


 


  


 


If a child lives with criticism, he learns to condemn.


(Bila anak hidup dalam kritik, ia belajar untuk mencela)


 


If a child lives with hostility, he learns to fight.


(Bila anak hidup dalam permusuhan, ia belajar untuk menentang)


 


If a child lives with ridicule, he learns to be shy.


(Bila anak hidup dalam ejekan, ia belajar menjadi pemalu)


 


If a child lives with tolerance, he learns to be patient.


(Bila anak hidup dalam toleransi, ia belajar bersabar)


 


If a child lives with encouragement, he learns confidence.


(Bila anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri)


 


If a child lives with praise, he learns to appreciate.


(Bila anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai)


 


If a child lives with fairness, he learns justice.


(Bila anak diperlakukan secara adil, ia belajar tentang keadilan)


 


If a child lives with approval, he learns to like himself.


(Bila anak dihargai, ia belajar mencintai dirinya sendiri)


 


If a child lives with security, he learns to have faith.


(Bila anak hidup merasa aman, ia belajar untuk percaya)


 


If a child lives with acceptance and friendship,


he learns to find love in the world.


(Bila anak merasa diterima dalam hidup dan persahabatan,


ia belajar menemukan kasih dalam dunia)


 


 


- Dorothy Low Nolte –

Satu Celana Berdua

Satu Celana Berdua


 


untuk Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto


 


Dua anak jalanan bertemu di bawah jembatan


di malam hujan. Setelah berkenalan, berbagi dingin


dan lapar, mereka tidur berdua dalam satu celana.


 


Suatu hari mereka berpisah juga, mencari jalan hidup


sendiri-sendiri. Siapa sangka mereka akan jadi bintang.


Mereka berjumpa kembali di atas panggung,


sekian tahun kemudian. Yang satu pandai menirukan


suara bermacam-macam orang, yang lain pintar


memainkan beragam bunyi dan bunyi-bunyian.


 


Sejak itu kami sering berburu bunyi dan berburu suara


bersama. Bila kami bertemu pengamen kecil di bawah


jembatan, kami suka bersitegang. “Dia mirip kamu,”


kata saya. Dia balik menuding: “Kamu yang mirip dia.”


 


Kami sendiri masih merasa seperti gelandangan kecil

yang berkeliaran di jalanan, mengamen siang malam,


untuk mencari tahu siapa ibubunyi dan ibusuara


yang telah mempertemukan kami di sebuah celana.


 


 


(Joko Pinurbo, 2004)


 


 


note: puisi ini dibuat oleh Joko Pinurbo sebagai persembahan kepada terhadap Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto yang dikaguminya


 

Tuesday, February 20, 2007

a matter of interpretation…

 


When I take a long time, I am slow.


When my boss takes a long time, he is thorough.


When I don't do it, I am lazy.


When my boss doesn't do it, he is too busy.


When I do something without being told, I am trying to be smart.


When my boss does the same, that is initiative.


When I please my boss, I am ass-kissing.


When my boss pleases his boss, he is co-operating.


When I do good, my boss never remembers.


When I do wrong, he never forgets.


 


source: unknown

MAKNA WAKTU

Untuk menyadari makna dari 1 tahun,


           bertanyalah pada murid yang tidak naik kelas


Untuk menyadari makna dari 1 bulan,


           bertanyalah pada ibu yang melahirkan anak prematur


Untuk menyadari makna dari 1 minggu,


           bertanyalah pada editor majalah mingguan


Untuk menyadari makna dari 1 hari,


           bertanyalah pada pekerja harian yang punya 6 anak


Untuk menyadari makna dari 1 jam,


           bertanyalah pada pacar yang menunggu kekasihnya


Untuk menyadari makna dari 1 menit,


           bertanyalah pada penumpang yang ketinggalan kereta


Untuk menyadari makna dari 1 detik,


           bertanyalah pada orang yang lolos dari kecelakaan


Untuk menyadari makna dari 1 milidetik,


           bertanyalah pada pemenang medali perak Olympiade


 


 


SAMVEGA TRAINING, Klaten

Sunday, February 18, 2007

Ibuku

Ibuku


 


Ibu suka membacakan buku untuk menghantar tidurku.


Aku terbuai mendengarkan ibu dan buku, mendengarkan


ibuku, sambil membayangkan dan bertanya ini itu.


Aku pun terlelap dalam mimpi, terbang ke tempat-tempat


yang belum kukenali. Ketika bangun, kurasakan basah


di celana. Wah, beta telah ngompol dalam dekapan bunda.


 


Bila aku pamit sekolah, ibu tak pernah bilang jangan nakal


dan bodoh, jangan membantah guru dan menyanggah buku.


Ibu hanya mengecup jidatku: Buka hidupmu dengan buku.


 


Pada saatnya beta harus meninggalkan bunda sebab tak bisa


selamanya menyusu pada ibu. Aku harus mencari susu baru.


Sambil menahan airmata, ibu memeluk dan menciumku:


Pergilah. Terbanglah. Aku pun terbang bersayapkan buku


ke antah-berantah yang bagiku sendiri masih entah.


 


Ketika suatu saat aku pulang ke rumah ibu,


ibu sudah menjadi buku yang tersimpan manis di rak buku.


 


(Joko Pinurbo, 2003)