Wayang Potehi di Pekang Budaya Tionghoa
Wednesday, February 11, 2009
Pawai Pekan Budaya Tionghoa
Melengkapi posting mbah Tampah, inilah yang sempat terekam oleh kamera saya.
semuanya bernada manusia....
selamat menikmati :)
Friday, November 28, 2008
NgayogJAZZ: Trie Utami
dari pentas NgayogJAZZ, inilah Trie Utami, pujaan hati...
lagu penutupnya Kau Datang... mengingatkan saya pada Krakatau, 20 tahun yang lalu.....
Friday, October 10, 2008
UGM Jazz Mandiri
Tradisi pertunjukan Jazz yang digagas Fakultas Ekonomi UGM datang lagi. Gelaran yang biasanya dinamakan Economics Jazz Live (EJL) kali ini dinamai UGM Jazz Mandiri karena sponsor utamanya minta merk nya diiikutkan. Ini adalah produksi EJL ke-10.
Kali ini, menampilkan Trisum yang kali ini tak menampilkan Balawan tapi Dewa Budjana, Tohpati & Donny Suhendra. Artis lain yang meramaikan acara ini adalah Glenn Fredly, Rio Febrian, Rika Roeslan. MC yang menggawangi adalah Dian Sastro dan Butet Kartaredjasa.
Sayang, saya tak bisa nonton. Istri saya ke luar kota pada tanggal itu. Tapi, saya sudah janjian ketemu Donny Suhendra dan Tohpati untuk minta tanda tangan di kaset-kaset berikut……….
Tuesday, June 10, 2008
RUMPIES (after the show)
Setelah pagelaran selesai, saya langsung menuju balcony. Sempat dicegah oleh security, tapi gua tunjukin sms dari Trie Utami. Akhirnya jadi deh......
Erwin langsung bertemu pujaan hatinya, Malyda. Belum sempat sign, sudah diminta turun karena Vina ada di bawah dan ada bbrp orang yang ingin foto sama Rumpies. Ikut turun. Di bawah, suasana tidak kondusif. Naek lagi dan minta sign Malyda dan Atiek CB (buat Hougo, Hans dan saya sendiri).
Malyda dan Atiek CB harus segera meninggalkan tempat. Trie Utami dan Vina Panduwinata masih beredar di bawah. Setelah Erwin minta sign dan foto pada Vina & Trie Utami, gua masih terus di sono karena masih banyak yang belon di sign. Erwin pulang duluan.
Setelah minta sign pada Vina, gua perhatikan, ternyata Vina dan Iie itu penggemar dugem. Beberapa pose mereka joget sempat gua rekam.
Inilah foto-foto mereka di bawah panggung, after the Show.......
Rumpies Show
Sempat jengkel juga jam 8 belum mulai acaranya. Setelah masuk ke venue, masih nunggu juga. Terlihat EO nya rada gak prof. kita berdiri, sementara meja-meja sudah bertuliskan nama pemesannya. Akhirnya, cari meja, pas ada nama Donny (pake Y). Duduk aja. ditawari minuman (padahal pas masuk juga udah ditawari), ya minta pesen lagi. Gak dibayar deh..... Ternyata meja milik Donny, bukan Donni, temen kita :(
Dibuka penampilan Malyda. Pada lagu pertama, sempat "keseleo" dikit (ternyata doi terharu!) tapi setelah itu, sudah recover dan suara khas nya yang genit-genit dah lancar. Sempat mengucapkan "Saya terharu" setelah lagu pertama, dan dilanjutkan ke lagu berikutnya.
Trie Utami muncul di urutan kedua, dengan lagu "Keraguan", Kuingin Kau Ada dan Sekitar Kita. Gua nekat aja pas lagu ketiga ini maju sambil ngasih kaset Krakatau Let There Be Life.
Dilanjut dengan penampilan Atiek CB yang nampaknya malam itu memang dimanjakan dengan 6 lagu. Sempat disorakin untuk berduet sama mantan suaminya, Ronny Sianturi, yang kebetulan nonton bersama Edwin Libels.
Kemudian Vina Panduwinata dengan beberapa lagu dan masih juga suaranya seperti dulu.
Konser ditutup dengan penampilan RUMPIES lengkap dan lagu NURLELA menjadi penutup. Sayang, saya tak mampu meng-upload video NURLELA mengingat ukurannya 350 MEGABYTES (format AVI). Bisa tidur dan mimpi dan ganti hari, baru selesai upload deh. Bisa di convert ke format apa ya biar bisa dinikmati semua teman-teman?
Daftar lagu di RUMPIES show:
Aku Jadi Bingung, Tak Pernah Berubah, Semua Jadi Satu (Malyda)
Keraguan, Kuingin Kau Ada, Sekitar Kita (Trie Utami)
Optimis, Risau, Kau Ada Dimana, Benci Sendiri, Terserah Boy, Maafkan (Atiek CB)
Logika, Di Dadaku Ada Kamu, Dia, Biru, Surat Cinta, Aku Makin Cinta (Vina Panduwinata)
Kalau Kau, Gak Jelas, Ironi, Nurlela (RUMPIES)
Meskipun keempat penyanyi ini bisa dibilang old crack, kualitas suara mereka tak berubah seperti lagunya Malyda. Dibanding penyanyi baru, mereka tetep aja TOP ABIS!
bayar tiket festival, dapet 23 lagu. Habis itu ketemu artisnya, foto-foto dan minta tanda tangan. Mana mungkin GAK PUAS???????
Thursday, June 5, 2008
Ketemu Rumpies???
Gara-gara diprovokasi mas Erwin via pm dan posting mas Donni, saya jadi harus berunding lagi dengan teman soal acara di Jakarta tanggal 7 Juni 2008 nanti. Acara utama tanggal 7 sih pasti selesai jam 5.
Jadi, nonton Rumpies gak ya? Ini peristiwa langka. Provokasi semakin gencar dan membuat saya bingung. Daripada bingung, gua sms ke Iie aja deh.
Singo: konser Rumpies tgl 7 Juni di jkt ya? Aku lg di jkt tuh. Diprovokasi tmn nonton! Bingung nih?! Kepingin ktm Vina jg seh. Sambil ngasih kaset ke dirimu ya?
Iie: Ora usah bingung. wis nonton wae, pasti bingunge mlayu
Singo: Dicomblangin ktm Vina dan rumpies ya? Nanti sekalian aku bw deh kasetmu. Digratisi gak? Jauh2 dr yogya. Kasihanilah daku.... wakakakakak
Iie: tiket gak ono sing gratis, jakarta ki ngene...kejam, mengko tak comblangi pethuk rumpies, gawanen cover2 kaset vina malyda atiek cb sisan sing urung ditandatangani, ..kumplit!!
Singo: Sip! Nek pingin gratis, nonton tv ya? C u there..... Mugo2 pesawat gak alergi. Aku gak mau naik singo air! Dendam!
Iie: wahahaha.... kudune sampeyan sing nduwe singo air....
Singo: Kasihanilah org yg cuma pny kemampuan beli kaset bekas. Bukan pesawat
Iie: hahahaha, kenthir, wis aku tak ndelok pelem sik nang biskup.
So, klo nonton rumpies 150rb, dapet bonus ketemu semua artis rumpies lewat "all access" dan dapat tanda tangan serta foto-foto, apalagi yang harus diragukan??? Pesen tiket ah....
Monday, May 19, 2008
Vertigong – Orang Jawa Main Jazz: Beli 1 Dapat 3
Pertunjukan oleh kelompok Kua Etnika, Sinten Remen dan Teater Gandrik serta Butet Kartaredjasa (monolog) pasti menghadirkan satu hal yang sama: kelucuan!
Yang pertama muncul di benak saya ketika akan menonton Vertigong adalah kelucuan. Membayangkan akan menikmati pertunjukan jazz seperti ditampilkan oleh grup band Krakatau (sebelum mengusung ethnic jazz) dan Karimata di pertengahan 80an mungkin tak akan ada. Itu justifikasi dari saya sebelum menonton Vertigong.
Pertunjukan yang hanya ditampilkan satu kali di Yogya ini membuat tiket terjual sold out. Dimulai agak molor (agak di luar kebiasaan kelompok Butet & Djaduk!) pertunjukan langsung digebrak dengan penampilan komposisi berjudul Gumarenggeng. Pertemuan dua jenis alat musik tradisional (Jawa) dan modern (east meets west) tersusun dalam harmoni yang menghilangkan kesan alat musik tradisional tak pernah bisa bersenyawa dengan alat musik barat.
Purwanto, sang composer memberi kata pembuka setelah komposisi pertama. Sedikit kurang pede karena biasanya komposisi Kua Etnika digarap oleh sang boss, Djaduk Ferianto, Purwanto berharap penonton tak kecewa. Wadaw, tak perlu minder, Pur! Inilah waktunya narcist. Toh, terbukti komposisi pada pentas ini tidaklah mengecewakan!
Komposisi “Gambang Carawak”, dimana enam orang “mengeroyok” alat musik Gambang menandakan bahwa para personil di Kua Etnika tidaklah sehidup semati pada satu alat musik. Ini yang jarang saya temui pada grup lain. Berlanjut dengan bintang tamu, Christopher Abimanyu, yang suaranya menggelegar menyaingi Pavarotti itu pada komposisi “Tumungkul. “.
Kelucuan yang sudah saya bayangkan sebelumnya mulai terasa ketika mereka ber-accapela pada komposisi “Aubabauw” (= abab bau) dimana mereka hanya menggunakan media mulut untuk menghasilkan irama yang nikmat untuk didengar. Berlanjut pada penampilan Djaduk Ferianto, sang komandan Kua Etnika yang kali ini menjadi bintang tamu, pada komposisi “Sekedap” dan disusul oleh Trie Utami yang “beradu mulut” dengan DJ Aduk (julukan spontan Trie Utami pada Djaduk yang menghasilkan tawa penonton!) pada bagian akhir komposisi ini..
Selanjutnya Trie Utami yang ketularan “gila” oleh para personil Kua Etnika ini nekat mengusir Djaduk untuk tampil prima pada komposisi “Konstan”. Penampilannya mengingatkan saya ketika dia masih bergabung dengan Krakatau. Suaranya masih prima dan tak jauh berbeda dengan 22 tahun yang lalu.
Pada komposisi “Clap Tone”, para personil Kua Etnika hanya mengandalkan permainan tangan dan – sekali lagi – bisa menghasilkan irama yang dapat dinikmati. Saya membayangkan betapa komposisi ini tak mungkin tampil luar biasa tanpa didukung latihan ekstra keras dan kekompakan.
Pagelaran ditutup dengan komposisi “Vertigong”, dimana alat musik timur yang pentatonic bertemu dengan alat musik barat yang diatonic. Hampir tak dapat ada celah yang membelah di antara dua jenis musik yang berbeda ekstrim itu. Komposisi ini mengingatkan saya pada pagelaran jazz oleh Krakatau dan Karimata.
Menonton Vertigong sama seperti membeli paket hemat. Beli 1 dapat 3: jazz-nya, gamelannya, dan….. dagelannya!
Friday, March 14, 2008
{tontonan} - Di Belakang Pentas Sidang Susila
Buat saya, pementasan Sidang Susila oleh Teater Gandrik, mungkin bukan lakon yang paling gila yang pernah dipentaskan. Tapi, saya sangat berkesan sekali menonton yang satu ini. Konteks ceritanya yang sangat “nyambung” dengan carut marutnya tatanan politik, hukum serta tingkah laku para pejabat negara, baik legislatif, yudikatif maupun eksekutif pada saat ini, benar-benar semakin menyadarkan saya bahwa kita memang sedang tinggal di negara yang “sakit”. Kapan negara kita akan sembuh? Selama negara ini diduduki oleh kaum yang sok moralis dan korup, harapan kita seperti lakon Waiting For Godots saja. Menunggu makhluk yang tak jelas.
Pada malam pertama pertunjukan, saya langsung menuju ke belakang panggung setelah usai pementasan untuk menyalami para tokoh di balik cerita ini. Pada malam kedua, saya kembali ke tempat pementasan. Tujuan saya adalah mengambil (membeli) DVD pementasan monolog Butet Kartaredjasa via anaknya. Setelah itu, dengan nepotisme yang saya miliki, saya bisa menerobos pagar pemeriksaan karcis dan bertemu para tokoh cerita ini, yang sangat akrab menyambut saya serta bergurau sebentar dengan mereka. Saya mengambil beberapa foto sebelum mereka pentas.
Silahkan dinikmati……………….
Saturday, March 8, 2008
{tontonan} Sidang Susila – Tokoh di Republik Yang Sok (a)Susila
Tiba saatnya bagi saya nonton pementasan teater Sidang Susila oleh Teater Gandrik yang sudah saya post sebelumnya. Foto-foto yang saya ambil sangat tidak memuaskan karena saya kurang cepat hadir di tempat pertunjukan hanya karena sok tau, mengira pertunjukan diadakan di Gedung Purna Budaya, tetapi ternyata di Gedung Societet.
Jadi, untuk menikmati fotonya, silahkan menuju ke multiply rekan saya, mas Begawan Kodir, yang sudah terlebih dahulu menonton pertunjukan ini di Jakarta.
Sinopsis bisa dibaca di blog saya yang lain atau di multiply mas Begawan Kodir sambil lihat-lihat fotonya.
Di tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan apa yang bisa saya terjemahkan dari Sidang Susila.
Tokoh-tokoh dalam lakon ini buat saya sungguh menarik untuk diinterpretasikan:
Pak Hakim (Heru Kesowo Murti) yang berdandan ala Opa Irama di acara yang telah almarhum, “news dot com” serta berpakaian ala putih; Kepala Keamanan (Jaduk Ferianto), yang berpakaian prajurit dengan kostum full biru; Ibu Jaksa (Whani Dharmawan) yang berpakaian merah; Ibu Pembela (Butet Kartaredjasa) yang berpakaian “nano-nano” serta bidak catur yang berwarna merah dan kuning, yang dimainkan penjaga sel sambil menjaga sang pesakitan, Susila Parna (Susilo Nugroho), yang berpakaian compang camping adalah interpretasi fantasi liar saya yang semoga tidak selamanya benar.
Pak Hakim yang berdandan ala Opa Irama dan berpakain putih itu, menurut saya adalah representasi dari seorang seniman, mendapat sebutan “Raja” ndanxxxx yang begitu tega “menghabisi” karir Inul Daratista dengan beralasan moral. Pakaian putih adalah representasi sebuah partai yang benderanya berwarna putih dan selalu mengatakan dirinya partai yang bersih.
Kepala Keamanan yang berkostum biru, bertugas menjaga keamanan (moral) bangsa, buat saya adalah lambang partai biru, sebuah partai yang digagas oleh tokoh yang disebut reformis.
Ibu Jaksa yang diperankan dengan sangat bagus oleh Whani Dharmawan, menjadi simbol yang mengajak kongkalikong antara jaksa, pengacara dan hakim. Dan warna merah yang menjadi kostum sang bu Jaksa, saya interpretasikan sebagai warna dasar sebuah partai, yang kuat dalam melobi dan mengatur segala urusan.
Ibu Pembela yang berpakaian “nano-nano” adalah sebuah simbolisasi “oportunis”, yang awalnya begitu idealis tapi akhirnya “manut” saja (isuk dele sore tempe).
Bidak catur berwarna merah dan kuning yang dimainkan penjaga sel, dimana lakonnya adalah saling menyerang untuk mengalahkan raja, menjadi gambaran betapa partai kuning dan partai merah saling menjegal untuk berebut tahta di negara ini.
Cerita Sidang Susila ini menjadi simbolisasi negara kita dimana para “tokoh” ingin membungkus negara kita menjadi negara yang moralis. Segala sesuatu yang “berbau porno” menurut interpretasi mereka – sementara menurut orang lain tidak – harus diundangkan dan mengikuti apa kata pikiran mereka.
Dialog antara pak Hakim, Bu Jaksa, Bu Pembela dan Penjaga Keamanan, memberikan gambaran yang sangat jelas betapa dunia hukum di negara kita tak lebih dari faktor lobi-lobi untuk memenangkan suatu kepentingan.
Susila Parna, sang pesakitan, harus merelakan diri menjadi korban sebagaimana rakyat yang selalu jadi korban.
Menyaksikan pertunjukan ini, tak boleh sedetikpun kehilangan konsentrasi ucapan yang keluar dari “cangkem” para tokoh karena semua yang terucap adalah apa yang nyata ada di kehidupan bernegara kita dan itu semua mestinya bisa menjadi refleksi bagi para tokoh di negara kita yang sering menampik nalar dalam mendidik bangsanya.
Butet Kartaredjasa, Heru Kesawa Murti, Jaduk Ferianto, Susilo Nugroho, Whani Dharmawan (urut abjad) yang menjadi tokoh sentral dalam cerita ini patut diacungi jempol. Dua jempol saya tujukan khusus kepada Whani Dharmawan yang memerankan bu Jaksa, yang beberapa kali berucap seperti pendeta atau romo dalam berkotbah. Gile benerrrrrr!
“Satu hal yang saya kehilangan dari pementasan teater Gandrik kali ini adalah interaksi dengan penonton yang biasanya porsinya lumayan banyak.” Itulah kesan saya ketika ditanya oleh istrinya Butet Kartaredjasa di balik panggung, sambil membersihkan make-up suaminya, yang tak lagi berkelamin “perempuan” liar setelah pentas selesai dan mendapat tepuk tangan meriah dari penonton.
Monday, March 3, 2008
{tontonan} Sidang Susila - press release untuk pertunjukan di Yogya
Press Release ini saya dapatkan dari Butet Kartaredjasa untuk nambahi posting saya sebelumnya
“SIDANG SUSILA” tontonan 17 tahun ke atas:
Teater Gandrik Menggelitik dengan Cerdik
TEATER GANDRIK manggung lagi! Tentu ini kabar gembira, mengingat cukup lama kelompok teater asal Yogyakarta itu tak menggelar repertoar. Teater Gandrik rupanya ingin muncul dengan energi baru. Karena itulah, pada pentas came back-nya kali ini Teater Gandrik mengangkat naskah karya Ayu Utami dan Agus Noor. Kerjasama dua penulis ini sudah tentu menjanjikan keunikan tersendiri.
Sebelumnya, lakon Sidang Susila ini dimainkan Teater Gandrik di Taman Ismail Marzuki Jakarta, dan mendapat sambutan hangat publik Jakarta. Ini ditandai dengan terjual habisnya tiket pentas, sold out, dua hari sebelum pementasan. Magnet Teater Gandrik yang didukung aktor Butet Kartaredjasa, Susilo “Den Baguse Ngarso” Nugroho, Whani Dharmawan, Djaduk Ferianto, Heru Kesawa Murti ini, rupanya cukup menyedot minat penonton Jakarta yang memang merindukan penampilan kembali kelompok teater asal Yogyakarta ini. Bahkan, dalam pementasn di TIM lalu, penonton rela duduk di anak tangga dengan membayar tiket Rp. 75.000,- sementara di tangan calo tiket melonjak harganya sampai Rp. 400.000,-.
Lakon tersebut akan dipentaskan di Yogyakarta pada Tanggal, 7-8 Maret 2008, Pukul: 20.00 WIB di Concert HallTaman Budaya Yogyakarta. Dengan harga tiket : Rp. 100.000,- Rp. 75.000,- Rp. 50.000,- Rp. 30.000,-
Nur Zulita, pimpinan produksi, mengharapkan penonton yang berminat menyaksikan pertunjukan Sidang Susila ini agar memesan tiket pertunjukan jauh hari sebelumnya. “Ini untuk mengantisipasi supaya tiket tidak jatuh di tangan calo. Kami tidak ingin penonton terkena imbas harga tiket yang melonjak bila sudah dikuasai calo. Belajar dari kasus di Jakarta, kami sudah mengambil beberapa langkah untuk mengantisipasi itu. Bila penonton sudah memesan tiket lebih dulu, maka mereka akan datang ke tempat pertunjukan dengan tenang, dan yakin bisa mendapatkan tempat duduk. Kebiasaan reservasi tiket seperti ini penting ditumbuhkan di kalangan penonton Jogja, karena yang diuntungkan juga masyarakat penonton itu sendiri."
Adapun tempat pemesanan tiket pertunjukan ada di : Radio Sonora, di ndalem Tejokusuman Jl. Wahid Hasyim (Anna) 0274-450363, Wuri 081328008567, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, (Telp.0274-376394.) dan De’Click Coffee Jl. Dewa Nyoman Oka No. 7 Kotabaru (telp. 0274-6576400).
Lakon Sidang Susila berkisah soal rezim moral dan susila yang menerapkan Undang-Undang Susila sebagai dasar hukum yang mengatur moralitas negara. Ketika Undang-Undang Susila ini ditegakkan, maka segera diburulah orang-orang yang dianggap asusila. Orang-orang yang dituduh menyebarkan pornografi pornoaksi, langsung diringkus. Bahkan, orang-orang yang dianggap menyimpan pikiran-pikiran mesum pun ditangkapi. Salah satu yang ditangkap dan menjadi pesakitan itu adalah Susila Parna, seorang penjual mainan berbadan gendut dengan susu yang besar. Dia dituduh mempertontonkan tubuhnya yang sensual, ketika ia membuka baju karena kepanasan sehabis ikut tayuban.
Naskah lakon Sidang Susila menjadi begitu kuat pada pengadegan dan struktur dramatiknya, sekaligus memiliki kecerdasan pada dialog-dialognya yang satir, ironik dan parodik. “Ini memang naskah lakon pertama yang saya tulis,” ujar Ayu Utami, yang telah menghasilkan novel Saman dan Larung. “Naskah ini saya tulis karena saya gemes sama perkembangan RUU Pornografi dan Pornoaksi. Semula disiapkan untuk monolog yang rencananya kan dimainkan oleh Butet Kartaredjasa. Tetapi menurut Butet lakon itu akan menarik bila dimainkan oleh Teater Gandrik. Dengan gaya sampakan-nya Gandrik bisa secara cerdik menggelitik penontonnya. Maka naskah itu pun ditulis dan dikembangkan oleh Agus Noor menjadi lakon teater, lengkap dengan struktur dramatik dan kelengkapan dramaturgisnya”.
“Bagi saya, lakon ini adalah upaya untuk mengkritisi soal RUU Pornografi itu. Lagi pula, bagi saya RUU itu sendiri penuh kelucuan, terutama menyangkut logika dan batasan-batasan mereka soal apa yang disebut porno atau tidak. Ini bener-bener konyol! Sangat menarik bila ini diwujudkan dalam lakon teater. Makanya, pada dasarnya lakon Sidang Susila ini adalah lakon komedi. Komedi itu lucu jika terjadi di panggung. Tapi, ingat, dia berbahaya sekali jika terjadi dalam sidang peradilan di kehidupan yang sebenarnya,” tutur Ayu tentang lakon Sidang Susila itu.
Karena tema yang disajikan sangat sensitif dengan isu pornografi dan banyak ungkapan yang bisa dikategorikan “dewasa”, Teater Gandrik memperlakukan pertunjukan ini hanya untuk mereka yang telah berusia tujuh belas tahun ke atas. “Para orang tua disarankan untuk tidak mengajak anak di bawah umur nonton pertunjukan ini. Kalau nekad, ya risiko ditanggung sendiri,” kata pimpinan produksi Nur Zulita.***
Wednesday, February 13, 2008
{tontonan} Teater Gandrik - SIDANG SUSILA
| Start: | Mar 7, '08 8:00p |
| End: | Mar 8, '08 |
| Location: | Concert Hall TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA |
{tontonan} - SIDANG SUSILA - Gandrik Menyutradarai Gandrik
Gandrik Menyutradarai Gandrik (by Butet Kartaredjasa)
Ketika sebuah proses penciptaan pertunjukan teater dikerjakan rame-rame, dikeroyok dari kiri kanan, digelontor ide-ide dari semua pendukungnya, -- rasanya agak gegabah jika ada yang berani mengaku sebagai “sutradara”. Dalam pemahaman standart, sutradara adalah kreator tunggal yang memiliki ororitas penuh terjadap proses penciptaan itu. Dia adalah pemilik hak prerogratif dan bersifat mutlak. Jelas, ada subyektivitas yang menggerakkan seluruh kerja kreatif. Bukan saja pada tafsir terhadap cerita, tetapi juga mengarahkan pemeranan, merancang bangunan dramatik, menata bloking, mengagas tata visual (set, make up, kostum), membimbing penciptaan musik dan sebagainya. Pendeknya, seluruh eksekusi dan citra yang hadir di atas panggung, merupakan pertaruhan kreativitas dari sang sutradara itu.
Menyadari hal ini, lakon SIDANG SUSILA yang nyatanya dikerjakan secara keroyokan, sama sekali tidak punya nyali untuk mengukuhkan seseorang sebagai sutradaranya. Yang ada dan agak mendekati fungsi tugas penyutradaraan, hanyalah seorang motivator yang sekaligus mengatur lalu lintas gagasan yang saling berseliweran. Siapa pun yang terlibat dalam proses – pemain, pemusik, penulis cerita, penata artistik – boleh menyumbang gagasan. Bahkan diwajibkan. Maka yang namanya ide dan pemikiran bagai saling berlompatan, dan semua yang terlibat dalam proses ini berusaha menjala gagasan-gagasan terbaik untuk dijadikan pilihan. Semuanya dari hari ke hari selalu bertumbuh. Apa yang dicetuskan kemarin, mungkin akan ditawar kembali. Atau dikukuhkan sebagai pencapaian final.
Harus diakui ini bukanlah eksperimen yang mengada-ada. Tapi sebuah keniscayaan yang diam-diam mewarnai proses terciptanya lakon-lakon Teater Gandrik selama ini. Awalnya sih memang ada keinginan menggunakan konvensi penyutradaraan yang normal. Tapi dalam kultur Gandrik yang gemar celelekan dan doyan saling mengolok, rupanya hal itu membuat para pendukungnya jadi merasa dungu, -- karena gairah kreatif seperti terkunci. Inisiatif jadi mampat.
Maka, ketika “sutradara” kemudian membuka ruang-ruang partisipasi dalam setiap proses penciptaan, yang semula dibayangkan sebagai sesuatu yang mustahil, ternyata menjadi mustahal. Ide-ide liar bermunculan dan saling bertabrakan. Kadang bisa memperkuat gagasan, tapi juga bisa hanya letupan garing yang segera dicampakkan oleh olok-olok. Dari jejak inilah sebenarnya, jika mau ditelusur, bermula sebuah gaya berteater yang oleh almarhum Kirdjomulyo dipredikati sebagai “sampakan”. Sebuah gaya bermain yang terkesan “main-main”: keluar masuk ke dalam peran, dengan iringan musik dan tari menari, selalu berupaya membangun dramatika tapi tidak segan untuk menghancurkannya sendiri.
Catatan pendek ini perlu disampaikan bukan sebagai provokasi menjadikan hal beginian sebagai tradisi. Namun untuk sekadar mengingatkan bahwa sebenarnya banyak jalan dan kemungkinan menuju terciptanya sebuah karya. Semakin kaya dengan kemungkinan, akhirnya masyarakat pula yang akan diuntungkan. Dalam skala yang lebih kecil, proses SIDANG SUSILA ini barangkali bisa mengimbuh pengetahuan kawan-kawan Gandrik anyar, sebuah generasi baru yang kali ini ikut berproses. Mereka bisa melihat dan merasakan keganjilan penciptaan sandiwara yang abnormal.
Jadi, jika ditanya “Siapa sutradaranya?” – jawabnya: “Teater Gandrik!”.***
sumber: Butet Kartaredjasa
{tontonan} - SIDANG SUSILA - Gandrik Manggung Lagi
Bagi penggemar teater Gandrik, bersiaplah!!! Mereka manggung lagi!
TEATER GANDRIK Yogyakata mempersembahkan “SIDANG SUSILA”
Naskah: Ayu Utami & Agus Noor
Penata Musik: Djaduk Ferianto
Pemain: Susilo Nugroho, Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Whani Darmawan, Sepnu Heryanto, Rullyani Isfihana, dll.
Pertunjukan berlangsung di:
JAKARTA
Graha Bhakti Budaya TAMAN ISMAIL MARZUKI
Tanggal, 22-23 Februari 2008
Pukul: 20.00 WIB
Tiket: Rp. 150.000,- Rp. 100.000,- Rp. 75.000,- Rp. 50.000,-
YOGYAKARTA
Concert Hall TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA
Tanggal, 7-8 Maret 2008
Pukul: 20.00 WIB
Tikel: Rp. 100.000,- Rp. 75.000,- Rp. 50.000,- Rp. 30.000,-
TEATER GANDRIK manggung lagi! Tentu ini kabar gembira, mengingat cukup lama kelompok teater asal Yogyakarta itu tak menggelar repertoar. Teater Gandrik rupanya ingin muncul dengan energi baru. Karena itulah, pada pentas came back-nya kali ini Teater Gandrik mengangkat naskah karya Ayu Utami dan Agus Noor.
Naskah ini dipilih Teater Gandrik karena menyediakan kemungkinan-kemungkinan dramatik yang unik. “Ini memberi kami peluang untuk menafsir dan mengembangkan dengan spirit yang selama ini menjadi ciri Teater Gandrik,” tutur Butet, yang pada pentas kali ini juga betindak sebagai coordinator artistic yang melakukan tugas semacam penyutradaraan. Ayu Utami memiliki cara penulisan yang berbeda dengan Agus Noor. Dan ketika kedua “raksasa penulis” ini bersinergi, naskah lakon Sidang Susila menjadi begitu kuat pada pengadegan dan struktur dramatiknya, sekaligus memiliki kecerdasan pada dialog-dialognya yang satir, ironik dan parodik.
Lakon Sidang Susila memperlihatkan semangat membongkar kamuflase kebenaran moral yang coba ditegakkan melalui “Undang-Undang Dasar Moral Negara”. Inilah undang-undang susila yang kemudian menjadi satu-satunya acuan kebenaran ketika hendak menegakkan moralitas dan susila masyarakat. Sebuah gambaran, yang rasanya tidak terlalu jauh terjadi di sekitar kita. Inilah relevansi dan urgensi kenapa Teater Gandrik memilih lakon ini. Sidang Susila memberikan isyarat, betapa bayang-bayang kelam rezim otoriter yang mengatasnamakan moralitas sepertinya tak terlalu jauh dari masa depan kita. Dan dalam lakon ini, bagaimana rezim susila ditegakkan digambarkan melalui susunan adegan dan konflik yang penuh sinisme, sarkasme yang menggelitik dan ironi yang puitik. Dalam lakon ini, tampak bagaimana kehidupan ingin diatur dan kebenaran hendak dimonopoli. Sementara, jauh di belakang semua upaya itu tersimpan borok-borok yang ingin disembunyikan. Sebuah lakon satir yang getir, tetapi kita seperti tak bisa mengelak dari bayang-bayang ketakutannya!
Karena itulah, Teater Gandrik, yang dikenal dengan teater sampakan-nya, merasa sangat pas memilih lakon ini untuk mengekplorasi kemungkinan-kemungkinan artistik yang dikandung lakon ini, dengan pola teater sampakan yang kritis, penuh sentilan humor sekaligus terukur bangunan dramatiknya. Lakon Sidang Susila ini menjadi peluang kreatif bagi Teater Gandrik untuk mengembangkan gagasan-gagasan artistik yang lebih segar, fresh look, dan karenanya juga melibatkan 'energi-energi muda' yang mulai tumbuh di lingkungan Teater Gandrik. Di sinilah, secara artistik, Teater Gandrik kemudian mengolahnya menjadi spirit untuk “kelahiran baru Teater Gandrik”.
SINOPSIS “Sidang Susila”
Undang-Undang Susila – yang mengatur soal moralitas dan susila masyarakat – ditetapkan secara sah dan meyakinkan. “Dengan berlakunya Undang-undang Susila ini, maka secara konstitusional kita telah menjadi bangsa yang bermoral dan bertata susila, “ demikian ditegaskan oleh tokoh Jaksa. Maka segeralah disusun Garis-garis Besar Haluan Moral Negara, dimana segala macam bentuk pornografi dan pornoaksi akan dihapuskan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Orde moral atau rezim susila pun mulai mencengkeram dan menyeramkan.
Terjadilah penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang dianggap asusila. Orang-orang yang dituduh menyebarkan pornografi pornoaksi, langsung diringkus. Bahkan, orang-orang yang dianggap menyimpan pikiran-pikiran mesum pun ditangkapi. Salah satu yang ditangkap dan menjadi pesakitan itu adalah Susila Parna, seorang penjual mainan berbadan gendut dengan susu kimplah-kimplah. Dia dituduh mempertontonkan tubuhnya yang sensual, ketika ia membuka baju karena kepanasan sehabis ikut tayuban.
Segera Susila di sidang, diperlakukan sebagai pesakitan yang menjijikkan. Dia dianggap lebih berbahaya dari psikopat. Susila didakwa berlapis-lapis, agar masyarakat tahu betapa berbahayanya penjahat susila seperti dia. Tapi sesuatu terjadi diluar rencana. Banyak masyarakat yang kemudian menjadikan Susila sebagai ikon perlawanan. Susila dianggap pembangkang yang berani menentang Undang-undang Susila. Alih-alih menjadi pesakitan, dimata sebagian orang, Susila malah dianggap idola.
Para tokoh yang berkuasa kemudian menyebut-nyebut beberapa organisasi perlawanan, berada di balik semua gerakan perlawanan itu. Ada dua organisasi perlawanan yang dianggap menjadi biang kerusuhan moral, yakni GAM (Gerakan Anti Moralitas) dan OPM (Organisasi Pendukung Maksiat) yang dianggap sebagai kelompok-kelompok ekstrim yang asusila. Kepanikan kian memuncak ketika Susila Parna dikabarkan kabur, menghilang dari selnya. Operasi pencarian dan penangkapan pun kian diintensifkan. Setiap orang yang tertangkap dituduh menjadi bagian organisasi terlarang itu. Mereka kemudian dianggap sebagai penjahat moral menjijikkan yang terus-menerus merongrong stabilitas moral negara. Hingga para warga takut berhubungan dengan para pesakitan itu, takut terkena stigma tidak bersih lingkungan dan kehilangan pekerjaan.
Di balik semua gegap-gempita itu, konflik kepentingan bermunculan. Semua tokoh – seperti Hakim, Jaksa, Pembela, Kepala Keamanan – berusaha mencari kesempatan dari “proyek susila” itu. Bahkan sebagian dari mereka berusaha menyembunyikan perilaku amoral dan asusila mereka dengan kepura-puraan yang adil dan beradab.
Siapkah kita menghadapi rezim susila ini?***
sumber: Butet Kartaredjasa
Tuesday, November 27, 2007
Sarimin - Foto-foto Nonton Topeng Monyet
Dari pementasan Monolog SARIMIN di Purna Budaya (sekarang Pusat Kebudayaan Kusnadi Hardjosumantri).
diambil dengan cam dig pocket. Hasil tentu saja jauh dari profesional.
Sarimin - Laporan Hasil nonton Topeng Monyet
Akhirnya saya kesampaian nonton monolog Butet Kartaredjasa (BK) yang berjudul Sarimin (synopsis dapat dibaca disini)
Butet yang tak pernah mau disebut pelawak tapi selalu menampilkan kelucuan-kelucuan cerdas dalam tiap pentasnya sungguh memesona penonton dan juga saya.
Umpatan-umpatan akrab keseharian yang santai tanpa menghiraukan tata krama formalitas menjadi kelucuan yang mengalir deras. Dengan enteng umpatan “su!” beberapa kali mengalir dan disambut penonton dengan gelak tawa.
Sepanjang pertunjukan saya tak henti-hentinya tertawa meskipun sesekali serius mencoba menghayati lakon dan pesan apa yang ada di dalamnya.
Dalam lakon ini, BK melakonkan sebagai story teller, Sarimin, polisi dan pengacara. Sebagai Sarimin sang tukang penjaja hiburan “topeng monyet”, BK menggunakan kemampuan akting dan monolognya dengan baik. Bagaimana dia berbicara pada sang monyet yang juga bernama Sarimin, menjadi aksi yang menarik.
Ketika berganti peran sebagai polisi, BK juga secara maksimal mengeksploitasi kemampuannya “nyonthong” bak seorang polisi yang menawarkan “perdamaian” dengan Sarimin yang justru dituduh menipu dan menghina aparat dengan tidak meminta namun menganjurkan memberikan sejumlah uang damai. Suaranya menggelegar dan sangat natural seperti lakon yang sedang diperankannya.
Ketika berganti peran menjadi pengacara, BK pun berbicara dengan logat Batak yang tak kalah naturalnya dengan pengacara kondang ibukota spesialis pembela selebriti yang membutuhkan konseling legal. Dengan bernamakan Binsar tapi tanpa marga (karena takut disomasi, katanya!), BK akhirnya berani mengatakan bahwa marganya tidak ada di Sumatra Utara, karena marganya adalah Kussudiarjo. Bagian ini benar-benar menguras selera tawa saya sampai sakit perut!
Pesan yang saya tangkap, Sarimin adalah sebuah lakon yang ingin mentertawakan carut marutnya dunia hukum di Indonesia serta betapa ruwetnya lembaga aparat yang tak menghiraukan seorang warga yang hendak melaporkan kejadian yang terjadi.
BK memang gila!
Selepas pertunjukkan, saya menyempatkan diri ke belakang panggung dan menyalami BK sambil memberikan beberapa bungkus rokok untuk koleksinya. Beberapa penonton ikut ke belakang panggung untuk minta foto bersama dan minta tanda tangan. Salah seorang penonton yang minta berfoto, berasal dari Surabaya dan mengatakan memburu pementasan ini karena tak terjadwal main di Surabaya.
BK menjawab, akan main di Surabaya pada tanggal 14 – 15 Desember 2007 di Taman Cak Durasim. Jadi, bagi yang ingin menyaksikan Sarimin di Surabaya, bersiaplah!
foto-foto seadanya bisa dilihat di sini.