Thursday, April 30, 2009
Terima Kasih
Tahun lalu, suasana MP meriah buat saya. Tahun ini, seiring menurunnya pamor MP dibanding FB, suasana tak begitu meriah. Tapi, saya bersyukur teman-teman masih mengingat saya.
Mbak Vero, mas Ancha & mas Inyong sejak pagi sudah mampir ke buku tamu saya dan memberi ucapan. Disusul yang lain, mas Agung & mas Hendry. Terima kasih teman-teman.
Perhatian kalian menyiratkan account MP saya memang sebaiknya dipertahankan karena di sini saya juga menemukan teman baik.
Semoga Tuhan membalas perhatian kalian kepada saya. Aminnnnnnnnnnn
Monday, April 27, 2009
Selamanya
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Music |
| Genre: | Pop |
| Artist: | Rida Farida |
Judul album: Selamanya
Penyanyi: Rida Farida (Rida RSD)
Produser: Wirawan Hartawan, Dina Mariana, Utha Likumahuwa, Adjie Soetama
Produksi: Platinum, 2009
Setelah dua kali tampil bersama RSD di layar televisi, akun Facebook Rida dipenuhi komentar para penggemarnya yang menyatakan kerinduan penampilan mereka serta mendukung kembalinya RSD di kancah musik Indonesia. Kerinduan para penggemar nampaknya menjadi semangat bagi Rida untuk segera menyelesaikan album solonya yang sudah dipersiapkan sebelum tampil (reuni) bersama Sita dan Dewi.
Memanfaatkan histeria lagu-lagu 80an yang akhir-akhir ini terus menggiring penikmat musik berusia 40+ untuk mencoba mengulang masa lalu yang indah, separo persis album ini berisi lagu yang populer di tahun-tahun itu; tiga lagu Vina Panduwinata berjudul Salamku Untuknya (album Festival Lagu Populer Nasional – 1983), Mohon Ampun (Citra Ceria – 1984) dan Dua Anak Manusia (Cinta – 1985), satu lagu Ruth Sahanaya berjudul Selamanya (Tak Kuduga – 1989) serta lagu Trie Utami berjudul Tinggal Bilang (Adjie Soetama & Rekan – 1989). Sisanya, 3 lagu adalah lagu yang dibawakan Rida bersama RSD: Antara Kita & Masih Ada (Antara Kita – 1995) dan Aku Ingin (Bertiga – 1997), dan 2 lagu baru berjudul Katakan dan Sahabat. Dari kesepuluh lagu itu, hanya lagu Dua Anak Manusia-lah ciptaan Vina Panduwinata. Sisanya, lagu-lagu di album ini ciptaan Adjie Soetama yang berkolaborasi dengan pencipta lagu lain seperti Andre Hehanussa, Chrisye, Irianti Erningpraja, Budi Bidhun & Tetet Cahyati.
Keberanian Rida menyanyikan lagu-lagu Vina Panduwinata & Ruth Sahanaya menjadi catatan tersendiri karena lagu-lagu itu disenandungkan tanpa mengurangi penghayatan dan tanpa kesulitan berarti bagi penyanyi 90-an ini. Rida tentu tak sulit mengenali lagu 80-an yang berjarak umur tak terlalu jauh dengan eranya sebagai penyanyi.
Namun, pada lagu Tinggal Bilang, jangan berharap lagu ini punya soul secentil jika dinyanyikan oleh Trie Utami mengingat Rida sebagai bagian dari grup RSD memang tak dilahirkan untuk menyanyikan lagu dengan beat sekencang Trie Utami pada grup Krakatau yang butuh banyak dinamika.
Tiga lagu yang dinyanyikan bersama bersama rekannya, Sita & Dewi, sama sekali tidak kehilangan jiwa RSD. Kedua lagu baru yang ada di album ini tidaklah terlalu sulit disenandungkan Rida mengingat kedua lagu ini sangatlah “RSD”
Album ini sangatlah pas didengarkan para fans RSD yang rindu pada mereka karena jiwa RSD terasa sangat kental di sini. Penggemar Vina Panduwinata dan Ruth Sahanaya juga tak ada salahnya ikut mendengarkan lagu-lagu yang dulu sempat dipopulerkan kedua penyanyi tersebut. Bisa mengobati kangen suara si Burung Camar dan Uthe.
Beberapa waktu ke depan, nampaknya penyanyi-penyanyi lain akan mengekor album semacam ini untuk memanfaatkan momentum daur ulang lagu-lagu hits era 80-an yang sekarang sedang bangkit karena adanya pengaruh acara Zona80 di Metro TV setiap Minggu Malam. Daur ulang lagu-lagu pop kreatif 80-an semacam album Selamanya ini akan menjadi perimbangan yang baik di tengah maraknya lagu-lagu Indonesia yang bersifat generic & stereotipe oleh band-band anak jaman yang lebih mementingkan faktor industri (kapitalisme) daripada estetika lirik & pesan sebuah lagu.
Lepas dari lagu-lagu indah yang dilantunkan oleh Rida pada album solonya ini, hal yang sedikit mengganjal adalah pemberian label genre jazz yang kurang pas pada lagu-lagu yang easy listening. Pencantuman “Audiophile Recordings” layak tercetak di cover kemasan album yang tidak lazim untuk album biasa karena musiknya memang akustik nan halus. Warna biru yang menghiasi seluruh album mulai dari cover, keping cakram sampai lirik menjadi sejuk dipandang, sesejuk warna langit cerah jika album ini tidak dibeli di lapak-lapak bajakan yang kian hari kian mematikan toko kaset yang menjadi nafas kehidupan penyanyi & pencipta lagu.
Singo
Penikmat Musik
Friday, April 3, 2009
CONTRENG? Gak ada di KBBI tuh?
Beberapa minggu belakangan, di negara kita tercinta, kata yang paling populer adalah CONTRENG. Ini bukannya alasan. CONTRENG akan digunakan dalam pesta demokrasi tanggal 9 April 2009 mendatang. CONTRENG akan menggantikan kata COBLOS yang dulu digunakan dalam pemilu-pemilu sebelumnya.
Sebagai orang yang berkecimpung di dunia bahasa, saya merasa kata ini agak lucu kedengarannya. Jadi, iseng-iseng, saya ingin mengecek apakah kata ini memang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka sebagai referensi paling sah untuk entri kata-kata dalam Bahasa Indonesia.
Setelah saya cek, ternyata, kata CONTRENG yang digembar-gemborkan selama ini, TIDAK ADA!!!
Lho, ini peristiwa besar politik negara kita. Lha? Koq istilah yang digunakan untuk acara resmi dari pemerintah, malah gak ada di KBBI yang notabene adalah kitab sakti untuk bahasa kita?
Jadi, pemilu nya gimana? Resmi ndak? Apa kali ini pemilunya pemilu gaul?
Thursday, April 2, 2009
Akhirnya Harus Putus
Beberapa saat yang lalu ketika posting dalam rangka 2 tahun saya ber-multiply, saya mencurahkan kegelisahan saya tentang prinsip saya berteman serta kegelisahan yang melanda saya dalam bertema (baca di sini).
Pada saat itu, saya sudah menyiapkan diri jika saya harus menyaring lebih ketat lagi teman-teman saya supaya saya mendapatkan teman berkualitas.
Seiring berjalannya waktu, saya menemukan, seorang teman (A) yang selama ini baik terhadap saya, ternyata "menggigit" saya dari belakang. Dia merasa tersaingi oleh keberadaan saya dengan "mengambil" barang yang bukan haknya. Ceritanya, ada teman (B) yang akan memberi saya barang dan titip pada si A.
Si A dengan sigapnya melarang dan mengatakan, "buat apa kasih Singo? buat saya ajah!"
Kejadian kedua, si A berkomunikasi dengan si B. Secara kebetulan, saya melihat percakapan tertulis mereka. Si A mengatakan, "saya tidak mau kalah dan tak mau dikalahkan Singo"
Kejadian ketiga, si B memenuhi keinginan saya bertukar barang. Saya memenuhi permintaannya mencarikan kaset dan dia bersedia menukar dengan CD seorang artis. Si A pun merasa jengah dan mengatakan: "Ngapain sih itu Singo ikut-ikutan koleksi artis itu? Elu gak usah belikan Singo deh!"
Selama ini, saya sudah meluangkan waktu, tenaga & pikiran ikut mencarikan kaset yang dia inginkan. Bahkan saya tak segan pernah menghapus kekurangan utangnya pada saya. Ternyata, di belakang saya, dia melarang saya melengkapi koleksi kaset saya dan menjelek-jelekkan saya. Ditambah lagi, dia melarang orang lain berbuat baik terhadap saya.
Pertanyaannya, pantaskah orang seperti A ini menjadi teman?
Jadi, mohon maaf temanku jika saya akhirnya harus menghapus dikau dari daftar teman.
Saya ingin hidup dengan enak, tidak menimbulkan kecemburuan. Jadi, kalau saya dianggap saingan yang harus disingkirkan, sebaiknya kita tak usah berteman saja.
Thursday, March 12, 2009
Bukan Tak Setia
Tak usah diingkari fakta yang menyatakan terjadi migrasi besar-besaran ke Wajah Buku. Ada yang mengatakan di sana lebih asik. Ada yang bilang di sini lebih interaktif
Semua benar. Karena pendapat orang terjadi berdasar pengalamannya. Tinggal dari sudut pandang mana melihatnya
Bagaimana dengan saya? Saya punya keduanya karena saya melihat keduanya dari sisi baiknya. Tapi, kalau akhir-akhir ini saya jarang posting di sini, upload foto maupun musik, itu lebih karena saya tak tau harus ngomong apa. Browse beberapa kali ke page teman, terus keluar tulisan:
"Verify You're Human"
seperti yang saya pernah post di sini. Kalau sudah keluar tulisan itu, saya lebih baik sign out saja
Sudah saya tanyakan pada customer support, jawabannya tidak ada masalah. Lha, kalau tidak ada masalah, koq masih muncul terus? Bikin bingung. Mau protes ya gak bisa, lha wong ini account gratisan. Udah gratis koq protes?
So, ya ambil saja yang terbaik. Gitu aja koq repot?
Thursday, February 26, 2009
Tak Kuasa
Jam dinding menandakan sudah waktunya jiwa & raga diberi kesempatan istirahat.
Tiba-tiba, keheningan & kesunyian malam terpecah karena telepon genggam meneriakkan sebaris nada lagu Livin La Vida Loca (Ricky Martin). Itu pertanda teman sealmamater yang membuatnya menyanyi. Perasaan saya tak nyaman. Beberapa hari ini banyak rekan kerja belahan jiwa saya berdoa tanpa henti demi kesembuhan Ibu Indriani, mantan dosen kami, yang sedang berjuang melawan sakitnya yang sudah lama.
Sang penelepon mengatakan, Singo, kita iuran lagi beli krans bunga.” Bayangan saya langsung tertuju pada nama bu Indriani.
Sang teman melanjutkan, “Bu In sudah meninggalkan kita.”
Saya terdiam. Saya masih punya hutang. Ketika bu In sakit, saya tak menjenguknya. Saya hanya mengumbar janji pada teman akan menjenguk dan menyampaikan salamnya. Saya memang trauma mengunjungi orang sakit karena saya selalu terbayang perjuangan Mami melawan sakitnya sampai akhirnya Tuhan memanggilnya.
Tiga tahun lalu, beberapa teman mengajak saya untuk mengumpulkan dana demi kesembuhan bu In saat itu. Kami, khususnya saya, gagal meyakinkan bu in untuk bersedia menjadi terapi medis demi kesembuhan matanya. Penyakit diabetnya semakin menggerogoti kesehatannya dari tahun ke tahun.
Kabar tadi malam mengaduk-aduk perasaan saya. Antara kejengkelan & penyesalan karena kegagalan meyakinnya bu In agar bersedia berobat dengan dukungan teman-teman & iba hati karena bayangan perjuangannya melawan sakitnya sampai akhirnya dia berpulang, bercampur jadi satu.
Saya yang mestinya memberi ruang istirahat untuk jiwa raga setelah penat kerja, tak kuasa untuk tidak terhubung ke dunia maya mengabarkan kabar duka cita.
Pagi ini, saya mengantar anak yang bertugas koor misa Rabu Abu. Tangan saya tergerak untuk mengabarkan kabar duka cita lewat telepon genggam. Kepada 50an orang saya berkirim pesan singkat. Meskipun saya sudah melakukannya malam sebelumnya, saya melakukannya lagi, mungkin kepada beberapa teman yang sama. Banyaknya teman yang harus tau menjadi tanda banyak cinta untuk bu In. Banyaknya teman yang tau adalah banyaknya doa yang melapangkan jalan ke surga!
Misa sudah dimulai tapi saya belum selesai mengirim kabar duka. Saya melanjutkan mengirim sampai selesai agar tak ada yang terlewatkan. Banyak yang membalas. Semua kehilangan dan memanjatkan doa.
Membaca pesan teman-teman membuat air mata haru saya mulai menetes. Saya mencoba tegar agar kelihatan segar tapi hati saya terus bergetar.
Di gereja yang megah, tempat bu In selalu beribadah, linangan air mata saya terus bertambah. Ingatan saya kembali kepada Mami ketika berjuang untuk tidak dipanggil Ilahi.
Entah kenapa saya tak bisa menghentikan air mata. Tetesan air mata saya makin deras ketika koor anak-anak tanpa dosa itu menyanyikan lagu “You Raise Me Up”.
Lagu syahdu, penuh arti, indah & megah menggugah sukma yang selalu membuat saya menitikkan air mata.
Hidup memang sudah diatur olehNYA. Ketika kita mengantar doa untuk kepergian bu In ke nirwana, di gereja dinyanyikan pula:
When I am down and, oh my soul, so weary;
When troubles come and my heart burdened be;
Then, I am still and wait here in the silence,
Until you come and sit awhile with me.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.
There is no life - no life without its hunger;
Each restless heart beats so imperfectly;
But when you come and I am filled with wonder,
Sometimes, I think I glimpse eternity.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.
When troubles come and my heart burdened be;
Then, I am still and wait here in the silence,
Until you come and sit awhile with me.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.
There is no life - no life without its hunger;
Each restless heart beats so imperfectly;
But when you come and I am filled with wonder,
Sometimes, I think I glimpse eternity.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up: To more than I can be.
Bu In sudah melakukan yang tertulis di lirik lagu itu kepada ribuan mahasiswanya. Dengan suka cita dan senda guraunya serta jiwa keibuannya.
Selamat jalan bu In.
Suka, duka dan doa kami ikut mengantar ibu pulang ke Surga, rumah yang paling indah! Di sana engkau pasti bertemu Bapa. Kelak kita akan berjumpa pula!
Singo
Thursday, February 19, 2009
[tips] Membuat Kotak Kaset Bersinar Kembali
Membeli kaset bekas kadang timbul problem. Salah satunya adalah kotak kaset yang sudah buram. Paling sederhana adalah minta tukar kotak pada penjualnya. Pada umumnya, penjual tidak keberatan. Tapi, klo belinya di tempat loakan, semua kotak buram, mana bisa tukar? Apa yang hendak ditukarkan, lha wong semuanya buram?
Untuk membuat kotak kaset jadi bersinar kembali, ada beberapa cara:
1. Paling cepat tapi mengeluarkan ongkos tambahan: beli kotak kaset baru di toko kaset. Harganya ya paling murah Rp 3.000,00. Jadi sama donk dengan beli kaset bekasnya? Menghabiskan uang saja!
2. Inilah yang akan saya bagikan ceritanya
a. sediakan uang untuk beli pasta pembersih, jangan nyolong!
b. sediakan kain lap kering yang sudah tak dipakai lagi (gombal)
c. ambil kotak kaset yang buram tadi, oleskan pasta, gunakan tangan dan bersihkan dengan kain lap kering tadi. (Silahkan lihat di petunjuk pada kemasan pasta tersebut)
d. hasilnya pasti membuat kotak kaset kembali bersinar.
PERINGATAN PEMERINTAH:
tips ini tidak berlaku bagi:
1. kotak kaset yang pecah (klo udah pecah, dibersihkan macam apa pun ya tetep pecah)
2. kotak kaset yang sudah hilang. klo sudah hilang, buat apa dibersihkan?
3. Jangan terlalu serius membaca peringatan ini.
CATATAN:
tips ini saya dapatkan dari penjual kaset bekas. Terima kasih pak Zalmi
Subscribe to:
Posts (Atom)