
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Music |
| Genre: | Pop |
| Artist: | Rida Farida |
Judul album: Selamanya
Penyanyi: Rida Farida (Rida RSD)
Produser: Wirawan Hartawan, Dina Mariana, Utha Likumahuwa, Adjie Soetama
Produksi: Platinum, 2009Setelah dua kali tampil bersama
RSD di layar televisi, akun
Facebook Rida dipenuhi komentar para penggemarnya yang menyatakan kerinduan penampilan mereka serta mendukung kembalinya
RSD di kancah musik Indonesia. Kerinduan para penggemar nampaknya menjadi semangat bagi Rida untuk segera menyelesaikan album solonya yang sudah dipersiapkan sebelum tampil (reuni) bersama
Sita dan
Dewi.
Memanfaatkan histeria lagu-lagu 80an yang akhir-akhir ini terus menggiring penikmat musik berusia 40+ untuk mencoba mengulang masa lalu yang indah, separo persis album ini berisi lagu yang populer di tahun-tahun itu; tiga lagu
Vina Panduwinata berjudul
Salamku Untuknya (album Festival Lagu Populer Nasional – 1983),
Mohon Ampun (Citra Ceria – 1984) dan
Dua Anak Manusia (Cinta – 1985), satu lagu
Ruth Sahanaya berjudul
Selamanya (Tak Kuduga – 1989) serta lagu
Trie Utami berjudul
Tinggal Bilang (Adjie Soetama & Rekan – 1989). Sisanya, 3 lagu adalah lagu yang dibawakan
Rida bersama
RSD:
Antara Kita & Masih Ada (Antara Kita – 1995) dan
Aku Ingin (Bertiga – 1997), dan 2 lagu baru berjudul
Katakan dan
Sahabat. Dari kesepuluh lagu itu, hanya lagu
Dua Anak Manusia-lah ciptaan
Vina Panduwinata. Sisanya, lagu-lagu di album ini ciptaan
Adjie Soetama yang berkolaborasi dengan pencipta lagu lain seperti
Andre Hehanussa, Chrisye, Irianti Erningpraja, Budi Bidhun & Tetet Cahyati.
Keberanian
Rida menyanyikan lagu-lagu
Vina Panduwinata &
Ruth Sahanaya menjadi catatan tersendiri karena lagu-lagu itu disenandungkan tanpa mengurangi penghayatan dan tanpa kesulitan berarti bagi penyanyi 90-an ini.
Rida tentu tak sulit mengenali lagu 80-an yang berjarak umur tak terlalu jauh dengan eranya sebagai penyanyi.
Namun, pada lagu
Tinggal Bilang, jangan berharap lagu ini punya
soul secentil jika dinyanyikan oleh
Trie Utami mengingat Rida sebagai bagian dari grup
RSD memang tak dilahirkan untuk menyanyikan lagu dengan beat sekencang
Trie Utami pada grup
Krakatau yang butuh banyak dinamika.
Tiga lagu yang dinyanyikan bersama bersama rekannya,
Sita &
Dewi, sama sekali tidak kehilangan jiwa
RSD. Kedua lagu baru yang ada di album ini tidaklah terlalu sulit disenandungkan Rida mengingat kedua lagu ini sangatlah “
RSD”
Album ini sangatlah pas didengarkan para fans
RSD yang rindu pada mereka karena jiwa
RSD terasa sangat kental di sini. Penggemar
Vina Panduwinata dan
Ruth Sahanaya juga tak ada salahnya ikut mendengarkan lagu-lagu yang dulu sempat dipopulerkan kedua penyanyi tersebut. Bisa mengobati kangen suara si
Burung Camar dan
Uthe.
Beberapa waktu ke depan, nampaknya penyanyi-penyanyi lain akan mengekor album semacam ini untuk memanfaatkan momentum daur ulang lagu-lagu hits era 80-an yang sekarang sedang bangkit karena adanya pengaruh acara
Zona80 di
Metro TV setiap Minggu Malam. Daur ulang lagu-lagu pop kreatif 80-an semacam album Selamanya ini akan menjadi perimbangan yang baik di tengah maraknya lagu-lagu Indonesia yang bersifat
generic & stereotipe oleh band-band anak jaman yang lebih mementingkan faktor industri (kapitalisme) daripada estetika lirik & pesan sebuah lagu.
Lepas dari lagu-lagu indah yang dilantunkan oleh
Rida pada album solonya ini, hal yang sedikit mengganjal adalah pemberian label genre
jazz yang kurang pas pada lagu-lagu yang
easy listening. Pencantuman
“Audiophile Recordings” layak tercetak di cover kemasan album yang tidak lazim untuk album biasa karena musiknya memang akustik nan halus. Warna biru yang menghiasi seluruh album mulai dari cover, keping cakram sampai lirik menjadi sejuk dipandang, sesejuk warna langit cerah jika album ini tidak dibeli di lapak-lapak bajakan yang kian hari kian mematikan toko kaset yang menjadi nafas kehidupan penyanyi & pencipta lagu.
Singo
Penikmat Musik