Wednesday, August 15, 2007

Pecah Ndase

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan Bausasran, Selasa, 14 Agustus 2007, pukul 18:50.

Ketika hampir selesai mengajar, ada suara kendaraan bersenggolan yang agak keras. Saya langsung menduga pasti ada kecelakaan di luar rumah tempat saya mengajar. Beberapa detik setelah suara senggolan itu, terdengarlah suara “duor!!!” Sangat keras!


Ternyata benar-benar ada kecelakaan. Belum selesai saya merapikan alat tulis, saya langsung keluar bersama murid saya. Dari dalam rumah, saya melihat orang-orang di luar telah berkerumun dan seorang pria berumur kira-kira 25 tahun, tergeletak di tepi trotoar antara sadar dan tidak sadar. Tanpa sempat memakai alas kaki, saya ikut berlari. Dia berusaha bangun namun orang-orang sekitar melarangnya. Saya juga mencoba melarangnya karena biasanya jika orang baru saja terjatuh, dia mengalami guncangan hebat (apalagi kepalanya berada di tanah).


Saya teringat ketika SMA, teman saya berboncengan dengan adiknya dan mengalami kecelakaan. Saat itu, adiknya masih bisa bangun dan duduk lagi di sepeda motor namun sampai di rumah sakit, menghembuskan nafas terakhir karena terjadi pendarahan otak (gegar otak).


Orang tersebut merintih karena kakinya tak bisa digerakkan. Nampaknya ia mengalami patah tulang. Tak ada darah keluar dari kakinya tapi benar-benar kakinya tak dapat digerakkan namun sudah membengkok.


Sepeda motornya sudah remuk tak berbentuk. Sementara beberapa meter di dekat motor yang hancur itu, ada mobil yang sudah ringsek depannya namun pengemudinya tak lagi di mobil itu.


Dari cerita para saksi, kejadiannya begini: Mobil Forsa Amenity melaju dari arah barat jalan Bausasran menuju ke timur (beberapa meter dari rumah murid saya). Pengemudinya baru belajar mengemudi. Mobil tersebut menabrak sebuah motor Mio yang berjalan dari arah yang sama. Pengendara Mio pun tergeletak (saya malah tak menemukan pengemudi Mio ini!). Menurut pak polisi sih, pengendara Mio ini lukanya sangat parah. Menurut orang-orang disekitar situ, pengemudi Forsa tak bisa mengendalikan dirinya, gugup. Bukannya menginjak rem, malah menginjak pedal gas menjadi lebih kencang. Sementara dia dalam kegugupan dan menginjak pedal gas sehingga kecepatannya bertambah dia juga membanting stir ke kanan. Pada saat bersamaan datanglah sepeda motor dari arah berlawanan (timur) dari arah perempatan Gayam – Bausasran dengan kecepatan yang sangat tinggi. Karena posisi mobil sudah memakan badan jalan di kanan jalan dari arah barat, motor tersebut tak bisa lagi menghindari dan mengenai tepat di tengah mobil.


Masih menurut orang-orang disitu, motor tersebut melayang bersama pengemudinya dan pengemudinya pun jatuh seperti di film-film action ketika seorang stunt man sedang melakukan pekerjaannya.


Saya mencoba mencari tau dimana sopir mobil tersebut namun tak ada. Beberapa menit kemudian, datanglah 3 orang polisi lalu lintas. Dan menurut pak polisi ternyata sang sopir telah melarikan diri ke Polsek terdekat untuk meminta perlindungan.


Saya mencoba mengambil gambar motor yang sudah ringsek tersebut. Namun karena jalan yang gelap dan kamera di HP tidak disertai flash, hasilnya ya gelap, seperti makanan gosong! Ketika mencoba memotret mobil yang telah diparkir di tempat yang lebih terang, datanglah seorang yang bertanya pada saya: “Koh, ini mobilnya engkoh?” Saya jawab tidak. Dasar sales, dia malah mengatakan, “Oh, ini kalau dibawa ke bengkel saya (dia menyebutkan tempat bengkel dia bekerja), ini pasti bisa kembali ke asal”


Saya tak bisa membayangkan mengapa orang belajar mengendarai mobil di jalan umum pada malam hari di jalan yang agak gelap! Orang lain yang sudah berhati-hati (pengendara Mio) pun menjadi korban. Pengendara motor yang lain harus menanggung akibat perbuatannya sendiri (ngebut, benjut!). Masih mau ngebut? Siap-siap aja, PECAH NDASE!!!

6 comments: