Tuesday, November 20, 2007

Super Mom vs Dokter sales Obat

 

Jumat, 26 Oktober 2007, kakak mengirim SMS yang berbunyi: “Mami masuk RS kena DB”.


Karena ini bukanlah penyakit yang kritis, saya bermaksud mengunjungi sambil memberi kejutan. Saya langsung nongol di RS tanggal 30 Oktober pagi. Mami dan kakak saya surprised koq tidak kasih kabar lebih dahulu. Siang itu, dokter yang merawat mengatakan sudah boleh pulang besok hari. Mami mengatakan masih kurang enak badan. Saya pamit tanggal 31 malam pulang.


Yogya, 1 November 2007 pagi, saya menelepon kakak saya dan dikabari bahwa mami sesak nafas. Ini berlanjut sampai besok harinya. Kakak saya memutuskan untuk memindahkan ke ICU setelah mendapat masukan dari perawat ICU yang kami kenal.


Namun, perawat di bangsal tersebut “mempersulit” pemindahan ke ICU dengan bertanya”Apa sudah diperhitungkan biayanya?” dan memberi pernyataan yang aneh “Paling-paling di ICU cuma dikasih alat monitor saja, belum tentu dirawat dengan baik”


Akhirnya, Sabtu, 3 November 2007 malam (21.00) baru mami dipindahkan ke ICU.


Mengapa sih, di RS yang sama saja para perawat itu berebut pasien?

Mengapa sih, perawat tidak mendahulukan kepentingan pasien?

Bahasa politiknya, mendahulukan kepentingan kelompok dan golongan!


Kepindahan ke ICU boleh dibilang terlambat karena supply oksigen ke otak memang kurang sehingga mami mengalami sesak nafas. Begitu dipindah ke ICU, sesak nafas mami berkurang. Namun, problem lain muncul. Ternyata, menurut dokter, infeksi sudah menyebar ke seluruh tubuh.


Sabtu malam itu saya benar-benar bingung. Mau berangkat ke Surabaya, hari Minggu saya masih harus mengajar untuk pertemuan terakhir karena murid saya segera mengikuti tes TOEFL untuk bekal sekolahnya ke Amrik. Saya tetap berpikir bahwa tak akan terjadi apa-apa. Dan keyakinan saya ada benarnya.


Minggu, 4 November 2007, saya berangkat dengan Kereta Api pukul 16.00 dan tiba di Surabaya pukul 22.00. Saya langsung masuk ke ICU dan melihat mami meronta-ronta kesakitan sambil mengigau mengucapkan kalimat-kalimat yang rancu sebagaimana orang sakit pada umumnya. Dokter menyatakan ini pra-comma karena mami tak mengenali orang-orang terdekat. Ini adalah istilah baru buat saya.

Menurut kakak saya, sejak sabtu malam, mami terus merasa kesakitan. Saya benar-benar tak tega melihat mami berlilitkan berbagai macam selang infus.


Senin, 5 November 2007, kondisi mami melemah. Tidur terus dan tak bisa membuka mata. Hanya menjawab dengan YA ketika ditanya. Ini berlanjut sampai Selasa.


Rabu, 7 November 2007 kondisi sudah membaik dan membuka mata. Kesadarannya jauh lebih bagus dan mengenali semua orang yang ada disana. Namun, dokter tak datang berkunjung.


Kamis, 8 November 2007, lepas tengah malam, dokter baru datang berkunjung. Saya meminta dokter untuk bertanya sendiri pada mami dan mami bisa menyebut nama dokter dengan sempurna. Dokter pun tersenyum melihat kemajuan ini. Kemudian mami mengatakan “saya lapar”. Dokter menginjinkan pemberian susu mulai besok.


Jumat pagi, 9 November 2007, setelah dibersihkan oleh para perawat dan akan diberi susu, mami mengalami pendarahan dan muntah darah sangat banyak. Keadaan jadi berubah total. Tranfusi darah harus dilakukan dan obat-obatan lain harus dimasukkan lewat infus. Tensi drop, O2 juga turun dan denyut nadi menjadi tidak stabil di bawah normal. Padahal hari-hari sebelumnya sudah bagus.


Dokter spesialis darah meminta kami banyak berdoa dan memberikan dukungan spiritual. Kalimat ini kami terjemahkan bahwa kami harus bersandar pada Tuhan YME. Kami berdoa tak henti-hentinya.


Sabtu, 10 November 2007 kondisi membaik. Kesadaran mami luar biasa. Dia lebih banyak bicara dan gerakannya juga lebih banyak. Kami senang tapi masih terus berdoa untuk kesembuhan mami. Kami juga terus memberi semangat pada mami untuk bertahan dan meyakinkan bahwa mami bisa sembuh. Beliau sendiri jika ditanya keyakinannya bisa sembuh, selalu menjawab dengan penuh percaya diri bahwa bisa sembuh.


Minggu, 11 November 2007, beberapa sepupu dan kenalan dari luar kota datang menjenguk. Mami senang sekali. Mungkin kunjungan dari keponakan-keponakannya membuat mami capek karena banyak bicara dengan nafas yang masih belum stabil dan kurang istirahat. Malam kira-kira pukul 19.00, terjadi bleeding lagi. Kami benar-benar lemas. Setelah kurang istirahat karena terus berjaga, masih lagi ditambah ketidakpastian kapan pendarahan yang dialami bisa berhenti.


Senin pagi, 12 November 2007, ketika masuk ke ICU, mami meminta saya pulang ke Yogya untuk menengok anak-anak yang sudah saya tinggal seminggu lebih. Antara ingin pulang ke Yogya dan terus mendampingi mami membuat saya bingung. Tapi saya yakin takkan terjadi apa-apa. Dan, jika saya menuruti kata-katanya, mami pasti senang dan tak akan menambah beban pikirannya. Mami memang luar biasa. Di tengah berjuang melawan rasa sakit, bosan di ruang ICU dan ketidakpastian kapan sembuh, beliau masih bisa memikirkan orang lain. Luar biasa!


Dengan Kereta Api, saya berangkat pukul 15.00. Tiba di Yogya pukul 20.05.


Belum 24 jam di Yogya, Selasa subuh, 13 November 2007, pukul 02.30 kakak saya menelepon mengatakan mami kejang-kejang. Hati ini rasanya hilang. Sementara itu, kedua anak saya mengalami demam sudah beberapa hari. Ada kekhawatiran anak-anak terserang DB karena perubahan cuaca. Saya juga masih harus menyelesaikan pekerjaan dan memberesi tagihan credit card, telepon, dan listrik.


Pagi itu, kakak saya memberitahu, dokter spesialis darah menyarankan mami untuk diberi suntikan Kybernin sebanyak 3 ampul @ Rp 3.500.000,00 (tiga setengah juta!), total Rp 10.500.000,00!!! dengan harapan darah bisa mengental supaya trombosit bisa naik (normal).


Menurut perawat, suntikan ini amat sangat jarang digunakan. Dokter utama yang merawat mami sebenarnya tidak begitu merekomendasi, namun dokter spesialis darah dengan diplomatis mengatakan: “saya sudah memberikan advis medis terbaik, jika keluarga menolak dan terjadi hal-hal yang tak diinginkan, mohon tidak menyalahkan saya”.


Sungguh pernyataan yang sangat aneh di balik pemberian advis tersebut. Ada apa di balik itu?


13 November 2007, tengah malam saya berangkat lagi ke Surabaya setelah hasil tes darah anak saya menunjukkan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.


14 November 2007, saya melihat mami masih tergolek lemah dengan mata terpejam seperti tanggal 5 – 6 November 2007. Namun, siangnya, mata mami sudah terbuka dan bisa menjawab pertanyaan. Thank God. Berarti ini ada kemajuan.


15 November 2007, sore. Dokter spesialis darah kembali menyarankan suntik Kybernin lagi! That’s bullshit! Saya langsung menolak. Semua kan ada prosesnya? Baru 2 hari yang lalu suntik, koq suntik lagi? Saya katakan pada kakak saya, dokter ini cuma sales obat saja! Bayangkan, kalau dia mendapat 10% dari setiap transaksi, dalam 3 hari dia sudah mendapatkan uang dari perusahaan farmasi sebesar Rp 2,1 juta!!! sementara pasien hanya bisa pasrah dan harus mengeluarkan uang. Padahal, pada suntikan pertama itu, dokter hanya menitipkan pesan lewat perawat, tidak bertemu keluarga secara langsung. Dan, belum terjadi konfirmasi dengan dokter utama.


Mengapa sih, ada dokter yang orientasinya bukan pasien-minded tapi kantong sendiri-minded?


16 November 2007, kondisi mami menunjukkan kemajuan. Dia sudah bisa bergurau sambil sesekali mengatakan bosan berada di ruang ICU. Kedatangan dokter kepala ICU dari luar negeri yang mengganti obat-obat yang diberikan kepada mami bisa jadi menjadi pemicunya. Kami bersyukur karena ada kemajuan yang berarti.

Saya pamit pada mami untuk pulang ke Yogya dan beliau setuju.

Sorenya, dengan kereta, saya pulang ke Yogya.


Hari-hari selanjutnya, sampai hari ini (20 November 2007), berita baik selalu saya dengar. Kemajuan yang terjadi secara perlahan tentu melegakan kami meskipun kami masih harus terus memberikan dukungan spiritual agar kesembuhan ini bisa terjadi. Kami yakin, kemajuan positif ini bisa terjadi karena kehendak Tuhan dan juga campur tangan dokter yang ahli dan cekatan serta memiliki niat yang baik. Juga, dukungan doa dari siapa pun: saudara-saudara, sanak famili dan teman-teman semua.


Selama ini kita sering melihat logo ‘S’ yang tertera di dada tokoh fiktif Superman. Buat saya, logo ‘S’ ini merupakan singkatan dari SuperMom. Mami terus semangat berjuang melawan sakitnya tanpa pernah menyerah.


Terima kasih atas dukungannya. Hanya Tuhan yang bisa membalas. Saat ini, kami masih membutuhkan dukungan spiritual dari semua pihak untuk kesembuhan mami.

 

 

nb: mohon maaf bagi teman2 yg kirim sms dan belum sempat saya balas. kehidupan saya jadi "abnormal" selama nungguin mami di ICU

 

8 comments:

  1. Tapi kebanyakan dokter emang jadi sales obat kok!! kecuali dokter2 yg sepuh, mereka lebih idealis!!

    ReplyDelete
  2. itulah yang bikin orang indonesia pergi ke singapur untuk berobat. lebih mahal tapi gak dibuat sapi perah untuk beli obat.

    ReplyDelete
  3. ckckckck.. tega bener ya...
    barusan isu obat palsu, skrg dokter 'memeras' maksa pasien beli obat..

    sabar ya Mas, semoga cepet sembuh dan keluar RS, amien

    ReplyDelete
  4. SuperMom memang tepat untuk seorang mom yang berjuang begitu gigihnya. Merinding baca kisahnya.

    Untuk dokter, aku memang pilih yang sudah kenal baik. Ada dokter keluarga, meski "mung" dokter umum, tapi cespleng. Anakku pernah sakit, didokterke (dr anak) gak sembuh2, setelah konsultasi via telpn sama dokter keluarga di Jkt, kami dikirimin fax resep. Malam itu juga langsung ke apotik, dan diminumkan. Alhamdulillah panasnya turun dan sembuh. Berapa juta harga obat yang super itu? Rp.7.500,- (tujuh ribu lima ratus perak, sekitar 4 thn lalu), kayak puyer gitu.
    Tiga bulan lalu mamaku gak bisa buka sebelah mata. Dokter vonis kena gejala stroke, di ctscan segala, ternyata dokter lain bilang gpp, cuma kurang supply oksigen ke otak, banyak istirahat pasti sembuh. Ternyata benar, cuma tidur tok obatnya. Piye jal ?

    ReplyDelete
  5. wangun toh nek judule dokter sales obat?

    ReplyDelete
  6. BERITA DUKA CITA..SANG SUPERMOM TELAH DIPANGGIL SANG KUASA TANGGAL 28 NOVEMBER 2007..SEMOGA BELIAU DITERIMA DISISINYA DAN KELUARGA YANG DITINGGALKAN DIBERI KEKUATAN DAN KETABAHAN...AMIN
    Yang kuat ya Om Singo..oma pasti sudah bahagia di sana..

    ReplyDelete